29 September, 2009

One day in my every single month






Rawamangun,..rawamangun,.. terakhir,.. terakhir,...

Alhamdulillahirobbil'aalamiin,.. setelah 22 jam duduk terpaku, akhirnya aku bisa bebaskan "bottom"ku dari penderitaan. Baru sekaranglah tampak ada kehidupan di bus yang aku tumpangi. Mereka terlihat sibuk dengan dirinya sendiri sembari berebut untuk turun. Sekarang, 1,2 atau 3 menit lagi tidak ada bedanya bagiku. Aku tunggu saja sampai cukup ada ruang untuk bergerak bebas.

Hawa panas mulai terasa begitu aku menginjakkan kaki di aspal terminal. Roda kehidupan manusia tampak begitu jelas berputar. Mulai dari kernet yang sibuk mencari penumpang, sopir yang duduk di belakang kemudi untuk memastikan kendaraannya terisi penuh sebelum menekan pedal gas, penjual koran yang berteriak memanaskan situasi, asap2 bis berbahan bakar solar yang mampu mengurangi jarak pandang, dan tentu saja pengemis, sang penghuni utama pusat2 keramaian. Semua begitu larut dalam rutinitas hariannya.

Aku lihat sebuah mobil sedan berwarna biru dengan lambang burung di atasnya melintas perlahan di depanku. Tanpa pikir panjang aku segera hentikan. Semua polusi telinga, mata, hidung, maupun kulit yang tersaji lengkap sudah cukup memberi alasan bagiku untuk tidak bertahan lama di tempat itu.

hotel, harris, tebet

Hanya dengan 3 kata terucap, ia langsung membawaku pergi dari tempat ini. Inilah gunanya keyword dalam mata kuliah tata bahasa yang sempat aku pelajari di bangku kuliah dulu. Meskipun, secara personal dulu aku tidak begitu menyukai dosen pembawa mata kuliah ini, namun aku usahakan untuk tetap menyukai materi yang disampaikan. Terbukti, kali ini ada manfaat yang bisa aku petik.

Ternyata jarak yang mesti kami tempuh tidak sejauh dugaanku. hanya 20 menit berselang, mobil sudah berhenti di pelataran sebuah gedung bernuansa krem orange. "Alhamdulillah, akhirnya aku bisa beristirahat" syukurku dalam hati. Setelah beberapa security check aku lewati dan sedikit birokrasi di meja resepsionis, sampailah aku di kamar 407.

Sekitar pukul 9 malam, beberapa rekan seprofesi mulai berdatangan di tempat ini. Inilah saatnya berinteraksi bersama mereka sambil berbagi pengalaman dari berbagai site yang spesifik. Karena tidak menutup kemungkinan akan adanya kemiripan, atau bahkan presisi untuk equipment, problem, atau prestasi di masing2 lokasi. Selain untuk mematangkan pengalaman, ajang ini juga berguna menambah kemampuan dasar operasional kami di tiap plant yang kami handle.

Alarm yang aku set pukul 02:45 telah cukup sukses membangunkanku. Setelah membersihkan dan menyegarkan diri, maka aku datangi meja birokrasi di lantai 1 untuk menyelesaikan semua persyaratan administrasi. Tanpa banyak menunggu, mobil sejenis yang aku tumpangi kemarin, kini telah pergi membawaku meninggalkan rumah peristirahatan ini. Blok M menjadi tujuan berikutnya untuk aku datangi. Di sana telah menanti sebuah bus pemerintah berlabel DAMRI yang akan membawaku menuju Cengkareng. Dan di terminal 2F lah ia akan menurunkan aku nantinya.

Gerai pesawat berlambang burung kebangsaan negara segera aku datangi begitu aku menginjakkan kaki di tempat ini demi mendapatkan print out atas e-tiket yang aku miliki. Security check di pintu 1 aku telah lewati sebelum memutuskan mendaftarkan diri sebagai penumpang pesawat yang akan terbang menuju bandara Sutan Thaha. Baru saja aku melihat jam di tanganku yang menunjukkan pukul 06:10, seorang wanita sudah begitu lantang bersuara,

Passanger of Garuda with flight code GA 136 to Jambi, please boarding to the aircraft.

Belum lama aku duduk di deretan ke 18 pesawat ini, wanita itu kembali bersuara. Namun kali ini dengan nada sedikit pelan. Seperti biasa, ia akan membacakan peraturan keselamatan penerbangan sipil yang ditetapkan oleh pemerintah dan dilanjutkan dengan menyuarakan ancaman pemerintah atas pengedar narkoba.

Welcome aboard, In according to the civilians safety prosedures,... en bla bla bla,....

Dan,.. hzz..hzz.hzz...

(Bahkan aku tidak menyadari kapan pesawat ini mulai take off. Rupanya rasa kantuk masih tersisa di kedua pelupuk mataku,...)


2 komentar:

  1. hehe,.. gak tau nih gimana komentar orang lain atas kisah di atas.. namun nouva pribadi hanya tertawa terkekeh selama membacanya. serasa kembali menyusuri masa lalu,.. mengintip kembali secuil kisah dimana dulu nouva pernah ikut menyelam ke dalamnya.. sedikit berbeda di akhir karena membuat nouva terdampar di pelataran Halim Perdana Kusuma jam 3 pagi,.. Jakarta tempoe doeloe..

    BalasHapus
  2. I see. Tapi kan sekarang dah gag perlu jauh2 ke jakarta kan buat ketemuannya.? Cukup di malang ja. Puas puasin dech,... hehehe

    Lebih baik di sini,.. rumah kita sendiri,. (kyk lagu ae,..)

    Jadi moment jakarta tempo doeloe bisa di ganti Malang di masa sekarang. hehehe. Gut lak bu,..

    BalasHapus