29 September, 2009

One day in my every single month






Rawamangun,..rawamangun,.. terakhir,.. terakhir,...

Alhamdulillahirobbil'aalamiin,.. setelah 22 jam duduk terpaku, akhirnya aku bisa bebaskan "bottom"ku dari penderitaan. Baru sekaranglah tampak ada kehidupan di bus yang aku tumpangi. Mereka terlihat sibuk dengan dirinya sendiri sembari berebut untuk turun. Sekarang, 1,2 atau 3 menit lagi tidak ada bedanya bagiku. Aku tunggu saja sampai cukup ada ruang untuk bergerak bebas.

Hawa panas mulai terasa begitu aku menginjakkan kaki di aspal terminal. Roda kehidupan manusia tampak begitu jelas berputar. Mulai dari kernet yang sibuk mencari penumpang, sopir yang duduk di belakang kemudi untuk memastikan kendaraannya terisi penuh sebelum menekan pedal gas, penjual koran yang berteriak memanaskan situasi, asap2 bis berbahan bakar solar yang mampu mengurangi jarak pandang, dan tentu saja pengemis, sang penghuni utama pusat2 keramaian. Semua begitu larut dalam rutinitas hariannya.

Aku lihat sebuah mobil sedan berwarna biru dengan lambang burung di atasnya melintas perlahan di depanku. Tanpa pikir panjang aku segera hentikan. Semua polusi telinga, mata, hidung, maupun kulit yang tersaji lengkap sudah cukup memberi alasan bagiku untuk tidak bertahan lama di tempat itu.

hotel, harris, tebet

Hanya dengan 3 kata terucap, ia langsung membawaku pergi dari tempat ini. Inilah gunanya keyword dalam mata kuliah tata bahasa yang sempat aku pelajari di bangku kuliah dulu. Meskipun, secara personal dulu aku tidak begitu menyukai dosen pembawa mata kuliah ini, namun aku usahakan untuk tetap menyukai materi yang disampaikan. Terbukti, kali ini ada manfaat yang bisa aku petik.

Ternyata jarak yang mesti kami tempuh tidak sejauh dugaanku. hanya 20 menit berselang, mobil sudah berhenti di pelataran sebuah gedung bernuansa krem orange. "Alhamdulillah, akhirnya aku bisa beristirahat" syukurku dalam hati. Setelah beberapa security check aku lewati dan sedikit birokrasi di meja resepsionis, sampailah aku di kamar 407.

Sekitar pukul 9 malam, beberapa rekan seprofesi mulai berdatangan di tempat ini. Inilah saatnya berinteraksi bersama mereka sambil berbagi pengalaman dari berbagai site yang spesifik. Karena tidak menutup kemungkinan akan adanya kemiripan, atau bahkan presisi untuk equipment, problem, atau prestasi di masing2 lokasi. Selain untuk mematangkan pengalaman, ajang ini juga berguna menambah kemampuan dasar operasional kami di tiap plant yang kami handle.

Alarm yang aku set pukul 02:45 telah cukup sukses membangunkanku. Setelah membersihkan dan menyegarkan diri, maka aku datangi meja birokrasi di lantai 1 untuk menyelesaikan semua persyaratan administrasi. Tanpa banyak menunggu, mobil sejenis yang aku tumpangi kemarin, kini telah pergi membawaku meninggalkan rumah peristirahatan ini. Blok M menjadi tujuan berikutnya untuk aku datangi. Di sana telah menanti sebuah bus pemerintah berlabel DAMRI yang akan membawaku menuju Cengkareng. Dan di terminal 2F lah ia akan menurunkan aku nantinya.

Gerai pesawat berlambang burung kebangsaan negara segera aku datangi begitu aku menginjakkan kaki di tempat ini demi mendapatkan print out atas e-tiket yang aku miliki. Security check di pintu 1 aku telah lewati sebelum memutuskan mendaftarkan diri sebagai penumpang pesawat yang akan terbang menuju bandara Sutan Thaha. Baru saja aku melihat jam di tanganku yang menunjukkan pukul 06:10, seorang wanita sudah begitu lantang bersuara,

Passanger of Garuda with flight code GA 136 to Jambi, please boarding to the aircraft.

Belum lama aku duduk di deretan ke 18 pesawat ini, wanita itu kembali bersuara. Namun kali ini dengan nada sedikit pelan. Seperti biasa, ia akan membacakan peraturan keselamatan penerbangan sipil yang ditetapkan oleh pemerintah dan dilanjutkan dengan menyuarakan ancaman pemerintah atas pengedar narkoba.

Welcome aboard, In according to the civilians safety prosedures,... en bla bla bla,....

Dan,.. hzz..hzz.hzz...

(Bahkan aku tidak menyadari kapan pesawat ini mulai take off. Rupanya rasa kantuk masih tersisa di kedua pelupuk mataku,...)


28 September, 2009

Petuah jalanan,.!!!



Maap, cerita di bawah hanya dibuat dalam versi jawa timur karena belum ada fasilitas bi-lingual dalam system kami. Jika anda kesulitan menerjemahkannya, carilah orang jawa untuk membantu anda. hehe..


Waktu iku bar mulih tekan Rumah Sakit nggone biasa aku MCU. Iseng2 nggawe kartu asuransi cek ono gunane (Eman tah lek ora digawe..!!). Arep mulih kok ganok tumpakan, walah,.. bingung aku. Kate naksi eman duwite, kate mlaku eman segone, kate mlayu eman sikile (iso2 sek tekan porong dengkulku wes anjlog). Yoweslah, mumpung krungu adan Ashar nang mushola cedak kono, aku mampir dhisik wae. Mari sholat, aku nyegat mikrolet "I" nang pinggir dalan. ujug2 sing tak enteni moro. Gag kati' kesuwen, drijiku langsung ngacung nang ngarep. Rupane supir angkote wes paham maksudku (yaeyalah,.. nandi2 ae lek arep numpak angkot lak yo ngunu tah.. hehehe.).


Mari mikrolete mandek, aku yo munggah ae. Tak rungok2no, nang njero ono wong sing ket maeng ngobrol terus karo supire. Kiro2 oleh setengah jam, aku krungu kata2 sing menurutku jeruuu,... maknane. Gag nyongko iso krungu kata2 koyok ngunu, opo maneh sing ngomong iku mung koncone supir angkot (lek tak rungok2ne seh, wonge iku sek pengangguran sing kaet entuk oleh garapan. Lha rupane supir iki yo kepingin melok pisan. Berarti lak ninggalno penggaweane saiki toh.?).


"Sampeyan iki opo karepe,.?? Wes duwe penggawean penak koyok ngene sek karep melok aku sing ra jelas jluntrungane. Iki ae durung mesti luwih gede olehe timbangane sampeyan nyupir. Sampeyan Arep ngguwak Sego, terus nggolek Upo ngunu tah..?"

Ayah.. kembalikan tangan Dita,.!!!


( Maaf, cerita di bawah bukan buah pikiran penulis sendiri, melainkan posting tetanggga yang sengaja di upload sebagai bahan renungan bersama,..)
Sepasang suami isteri - seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya... karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.


Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembanturumah.Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya.


Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, "Kerjaan siapa ini !!!" .... Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar.. Dia juga beristighfar. Mukanya merahpadam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ' Saya tidak tahu..tuan." "Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?" hardik si isteri lagi.Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata "DIta yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik ... kan !" katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali2 ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya. Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan.


Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa... Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar. Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka2nya itu terkena air.. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu.. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah.


Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. "Oleskan obat saja!" jawab bapak si anak.Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya.Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. "Dita demam, Bu"...jawab pembantunya ringkas. "Kasih minum panadol aja ," jawab si ibu.


Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. "Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap" kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya sudah serius.


Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. "Tidak ada pilihan.." kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut..."Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah" kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi. Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan.


Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. "Ayah.. ibu... Dita tidak akan melakukannya lagi.... Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi... Dita sayang ayah.. sayang ibu.", katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. "Dita juga sayang Mbok Narti.." katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.


"Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?... Bagaimana Dita mau bermain nanti?.... Dita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi, " katanya berulang-ulang. Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur.


Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf...

05 September, 2009

Namamu doa untuk Tuhan..!!



[ Ojo turu ae tah Bo (kebo, red), ndang nyambut gawe kono..!!]

[Ngu (Tengu, red), sido po ora, kok kaet maeng gag budhal2.??]

Rupanya kata2 serupa tidak bener2 hilang dari pendengaranku. Padahal, dengan berdiri pada jarak lebih dari 1500 km, aku berharap tidak lagi mendengar kata2 yang tidak "sedap" di telinga. Perbedaan kultur, adat, dan tentu saja watak, nyaris saja melengkapi harapanku ini. Tapi setelah aku mendengar beberapa kalimat,

[Oy,. Meng (entah apa artinya, yang pasti ini bukan nama aslinya),.. apo dio gawe kawan kito sikok ni.??]

[Pek (Apek, red),.. cakmano, galak idak kao gantikennyo.?]

Rupanya tidak ada beda. Meski dengan bahasa yang berlainan, "cela" ini masih saja melekat pada ucapan yang terlontar dari mulut mereka. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan kalimat2 itu. Tapi sayang, mengapa mereka harus mengawalinya dengan menyakiti hati orang lain.?

Nama. Setiap orang pasti memilikinya. Selain untuk membedakan antara yang satu dengan yang lain, nama merupakan "identitas" bagi pemiliknya. Di setiap nama terletak doa setiap orang tua. Tentu tidak ada orang tua di dunia ini yang sembarangan mewariskan "kata pengenal" bagi keturunannya. Setumpuk harapan, keinginan, dan kecintaan telah mereka sematkan sebelum memutuskan kata yang tepat untuk dibawa anak seumur hidupnya.

Lantas, apa hak kalian.? Mengapa tanpa perasaan bersalah sedikitpun, seenaknya merubah itu semua.? Apakah dengan melakukannya, membuat kalian merasa hebat dan berkuasa atasnya? Apakah itu semua akan memperlancar komunikasi kalian.? Apakah kalian berharap semua akan baik2 saja?

Aku rasa tidak. Kalian telah menusuk perasaan seseorang bahkan sebelum kalian selesaikan kalimat itu. Dan jika setelahnya kalian mengharapkan ekspresi dan reaksi yang murni, kalian salah. Senyum yang tampak di wajah saudara kalian itu hanya untuk menutupi sesak di dada. Meski ia coba untuk tidak mengambil serius ucapan itu, tetap saja ada goresan di hatinya.

Jadi, jika kalian bisa memanggil ia dengan nama yang telah diwariskan orang tuanya, mengapa tidak dilakukan saja. Apakah kalian akan menanggung beban karena melakukannya? Ataukah kalian lebih memilih untuk semakin mengeraskan hati dan memanggil saudara2 kalian dengan julukan yang tidak mereka sukai dan beranggapan tidak ada yang salah dengan itu semua.? Apakah kalian ingin menambah goresan di hati saudara kalian.?

04 September, 2009

Hebatnya tombol itu.!!


Bentuknya sih gag jauh beda sama saklar ON-OFF radio2 klasik. Bulet, dengan tonjolan memanjang di tengah dan garis putih sebagai penegas posisinya. Warnanya hitam. Sungguh tidak menampakan adanya keistimewaan pada tombol ini. Letaknya pun hanya tergeletak di tengah meja di antara dua layar pemantau proses refinery. Bersebelahan dengan perangkat telepon dan radio komunikasi.


Jika diperhatikan dengan seksama, hanya tampak tulisan yang tersusun atas 3 huruf. yakni huruf E, S, dan D yang disusun berjajar. Cukup ringkas untuk tombol yang tampak mungil ini. Di sampingnya terdapat satu lagi tombol serupa. Lagi2 hanya memiliki keterangan fungsi yang terdiri atas 3 huruf. Namun kali ini huruf E, D, dan P yang dipakai. Terdapat satu kata yang berada pada arah jam 10 dari kedua saklar ini bertuliskan "normal". Sedang untuk kata "ESD" dan "EDP" terletak pada arah jam 2 masing2 tombol.


Anehnya, kedua tombol ini hampir tidak pernah difungsikan. Kenapa.??


Jika kamu ingin tahu jawabannya, mari kita lihat buku berjudul "cause and effect" yang ada di atas lemari. Mari kita lihat informasi yang tersimpan di dalam buku mengenai "kedahsyatan" kedua tombol ini.


Pertama untuk tombol ESD. Jika kita coba putar tombol ini dari posisi "normal" ke arah jam 2, maka bisa kita sebut ini sebagai sebab atau dalam buku ini dianggap sebagai "cause". Lantas dari tabel bisa kita lihat satu persatu kejadian yang menyertainya. Yang di dalam buku ini disebut sebagai "effect". Mereka antara lain,


1. 1142-GTG-A/B shut down. hehehe,. dari namanya kamu bisa baca kalau ada yang "mati" atau berhenti beroperasi. Mang apaan seh GTG tu.? Sebenarnya GTG itu kependekan dari Gas Turbine Generator. Nah,.. sekarang kamu paham kan maksudnya.? Yups,.. bener sekali. Pembangkit energi untuk seluruh kegiatan refinery akan mati. Akibatnya? Tentu segala peralatan yang menggunakan energi ini akan berhenti beroperasi. Sebut saja motor listrik. Lantas, emang kenapa kalau motor listrik mati? Apa hubungannya sama gas dan minyak yang kita jual.? hehehe. Pendeknya, Gas atau minyak yang kita jual kan dialirkan lewat pipa. sedangkan untuk membuat mereka mengalir, dibutuhkan pompa dan kompressor. Nah, di sini benang merahnya sudah mulai tampak. Untuk dapat berputar, pompa atau kompressor tentu membutuhkan alat pemutar. Di sinilah motor listrik mengambil bagiannya. Ok, mari kita analisis "effect" berikutnya.


2. 1115-ESDV closed. kamu pasti sudah dapat menebak maksudnya. ESDV jika kita panjangkan artinya akan menjadi Emergency Shut Down Valve. Kata valve di sini berarti kerangan. Untuk mudahnya, bayangkan saja ia sebagai sebuah keran. Yups,.. 11-12 lah fungsinya sama keran air di kamar mandi kamu. Hanya saja, ia berukuran jauh lebih besar dan mengalirkan tidak hanya air, melainkan juga minyak dan gas. Jika pipa air di rumah kamu hanya berukuran setengah, tiga perempat, atau maksimal satu inchi. Maka valve disini bisa berukuran 10 inchi atau lebih. 10 inchi jika dikonversi ke satuan cm, akan sebesar 25 cm. hehehe,.. bisa kamu bayangkan gag pipa dengan garis tengah seperempat meter. Kalo begitu, valve tadi ukurannya seberapa.? Just imagine it. hehehe.. Jadi jika diartikan, maka keran sebesar itu tadi akan menutup. Itu berarti tidak ada aliran yang masuk ke kilang kita. Atau simpelnya, kegiatan jualan kita terhenti seketika itu juga.


Sebenarnya masih ada beberapa "effect" yang menyertai akibat kita putar posisi tombol mungil tadi. Namun, dua "effect' di atas sudah cukup menggambarkan "kedahsyatan" tombol ESD.


Lantas untuk tombol EDP yang memiliki nama panjang Emergency De-Pressurized, sebenarnya hanya memiliki satu "effect" jika di aktifkan. Yakni, semua peralatan yang bertekanan akan mulai melepaskan "pressure" untuk menyamakan diri dengan tekanan ambient atau lingkungan (1 atmosfer, 14,7 psia, o psig, atau apalah terserah kamu untuk menyebut kondisi setara lingkungan ini). Hanya saja, kita memiliki tidak hanya satu atau dua alat saja yang bertekanan di dalam Plant. jumlahnya lebih dari 10 unit. Dan celakanya, mereka semua hanya memiliki satu jalur pembuangan tekanan. hehehe,.. seperti yang kamu duga, semua kelebihan tekanan ini akan dibakar di sebuah alat pengaman yang bernama flare stack. Bentuknya cerobong dan ia terjulur sangat tinggi ke atas. Kamu pasti tahu alasannya. Yaitu untuk mengurangi efek panas yang ditimbulkannya terhadap daerah sekitar. Dan tentu saja terhadap manusia. Namun, ketika semua "pressure" yang notabene berwujud gas ini berebut untuk mengalir, bisa dibayangkan besarnya api yang akan ditimbulkan oleh flare stack tadi. Mungkin jika kamu berdiri 200 meter darinya, kamu masih bisa merasakan panasnya seperti berdiri di tengah gurun pasir pada siang hari.



Sebenarnya semua penjelasan tadi hanya untuk efek secara fisik saja. Tentu sebagai sebuah "tempat usaha" yang melibatkan berbagai pihak, berbagai negara, berbagai kepentingan, dan berbagai2 lainnya. Efek susulan lain tentu akan segera terjadi. Terutama berkaitan dengan birokrasi, management, dan kontrak kerja.


Beberapa engineer & planer akan mengkalkulasi kerugian yang ditimbulkan akibat gagal beroperasinya suatu plant. Jadi, jangan heran jika mereka tiba2 menyimpulkan,

"kerugian yang kita derita akibat bergesernya posisi kedua tombol ini adalah 150 milyar perhari."


Bbbrrrr....!!!!! jadi tinggal diitung saja kerugiannya tergantung lamanya waktu yang dibutuhkan untuk membuat kilang kembali beroperasi normal.


Seru ya...??? (^_^) y


03 September, 2009

Malam Mencekam.!!


Cerita ini aku alami saat sedang shift malam di tengah pedalaman jambi yang rimbun.

Deg,.!!

langkahku terhenti seketika. Seperti ada sesuatu di ujung lorong itu. Indera keenamku mulai merasakan kehadiran sesosok makhluk bercahaya. Samar2 ia terlihat di kejauhan. Lorong itu begitu gelap sehingga mengurungkan niat untuk membuktikan rasa penasaranku. Aku lanjutkan langkah tadi dengan menyimpan penasaran yang tak terjawab.

Begitu aku memasuki ruangan ini, aku mulai sejenak melupakan peristiwa aneh yang baru aku alami. Rutinitas pekerjaan sedikit banyak telah menyita perhatianku. Lantas, tiba2 timbul keinginan untuk pergi ke toilet. Dan aku baru menyadari jika toilet itu berada tepat di ujung lorong gelap tempat aku menemukan fenomena aneh tadi. perasaan ragu mulai berkecamuk dalam diri. Apakah aku harus menunda hasrat ini sampai esok pagi.? Ah tidak, itu terlalu lama.

Dengan tekad yang sebenarnya tidak seratus persen penuh, aku beranjak dari tempat dudukku. Selangkah demi selangkah berhasil aku lalui. ok, sekarang aku sudah berada di depan pintu. Tekadku untuk melanjutkan langkah sebenarnya telah mulai luntur. Tapi keadaan memaksaku untuk tetap menuju toilet itu. Setelah sejenak berfikir, aku ambil keputusan berani dengan tetap meneruskan langkah ini.


Kucoba pandangi ujung lorong tmpat aku melihat kejadian aneh tadi. Dan ternyata...??


"Sesuatu" itu masih tampak di sana. Sepertinya ia sengaja menampakkan diri di hadapanku. Duuh,..apa yang harus aku lakukan.? haruskah aku tetap ke sana.? keraguan ini kembali menyeruak dalam benakku. Terlihat ia seperti sedang berkedip. Antara terlihat dan tidak. Tapi dari tubuhnya memancar cahaya merah.


lamaa,.. sekali aku berdiri di situ. Mencoba mengumpulkan kembali keberanian yang telah jatuh berserakan sejak aku melihat keberadaanya tadi. Aku coba menghirup napas dalam2, dan aku langkahkan kakiku menuju arah cahaya itu,


Semakin dalam aku masuk ke lorong itu, semakin jelas cahaya itu berpendar. Aku tidak bergeming. dengan langkah yang mulai mantap aku meneruskan perjalanan. Sampai tiba2 aku telah berada beberapa meter dari posisi "makhluk ini". Di sebelah kanan telah aku dapati pintu toilet. Aku belokkan tubuhku ke dalam tanpa mengindahkan keberadaannya.


Begitu aku selesai dengan urusanku di toilet, tentu ruangan kerja menjadi tujuanku untuk kembali. Perasaan takut bercampur cemas telah memenuhi isi kepalaku. terasa lebih besar dari saat aku meninggalkan ruangan tadi. Perlahan aku buka pintu toilet sambil memastikan makhluk bercahaya itu telah pergi. Ku putar sedikit kepalaku ke arahnya, dan,.. kudapati ia masih tetap pada posisinya. tanpa banyak berpikir, aku tinggalkan toilet itu dengan langkah sedikit berlari.


Sesampai di ruangan kerja, perasaanku mulai lega. Untung saja tidak terjadi apa2 denganku tadi. Kalo tidak, siapa yang akan menolongku.? sedangkan aku hanya berdua bersama seniorku dan dijaga seorang security di posnya yang berjarak lumayan jauh.


Dengan napas sedikit terengah-engah, aku ceritakan semua kejadian yang aku alami tadi kepada seniorku. Tapi aneh, reaksi yang ditunjukkannya benar2 di luar dugaanku. Rupanya hal ini tidak cukup mengejutkan. Ekspresinya tampak datar dan biasa2 saja. Seperti ia telah mengetahui hal ini berulang kali.


Dengan sedikit tersenyum, ia berkata, "baguslah kalo begitu, coba sekarang kamu cek fire detector di ruangan sebelah juga. Apa masih berfungsi dengan baik.?"


hag..hag..hag,.. gag usah serius gitu dong bacanya..!!! (^_^) "

02 September, 2009

Who Am I. ??


Kalo kamu pikir aku sedang nonton pilemnya Jacky chan, kamu salah besar. Emang seh, sedikit banyak ada kaitannya. Tapi, aku bukan orang sehebat itu yang bisa melawan 10 penjahat sekaligus tanpa luka sedikitpun. Aku tidak setampan Jacky yang digandrungi cewek2 dalam pilem City Hunter. Hanya saja, kami memiliki beberapa persamaan selain sama2 pria tentunya.

Jacky Chan seorang introvert. Begitupun aku. Meski kata orang, seorang introvert akan sulit berkembang, tapi setidaknya kami lebih dapat menguasai diri. Kami tahu betul apa yang akan kami lakukan atau katakan. Semua telah terpikir dengan matang. Bahkan terkadang terlalu "matang". Sampai hal2 yang tidak berhubungan sekalipun terlihat penting bagi kami untuk dipertimbangkan pengaruhnya. Resikonya, kami terlihat lebih lamban, kurang lincah, dan sebagainya. Namun, kami bisa melihat berbagai deviasi yang muncul di depan dan tidak ada hal yang begitu mengejutkan bagi kami.

"Alon2 asal kelakon". Sebuah jargon jawa yang sepertinya begitu mewakili komunitas kami.

Go Introvert, go..!!!