Wah,.. pasti dah pada familiar dong ma benda yang satu ni. Apalagi buat ibu2 yang biasa bermarkas di dapur. Emang, sejak kebijakan pemerintah buat ngapus subsidi mitan en diganti ma konversi ke elpiji, tabung ijo mungil ini seakan menjadi penghuni tetap dapur2 indonesia. Hehee,.. jadi inget iklan layanan masyarakat buat mopulerin si ijo. "Bila nggak nyala apinya, jangan dicolok tabungnya, coba goyang2 selangnya,.."
Emang apa seh elpiji tuh,.? sama nggak ya,.. ma BBG yang dipake buat bahan bakar busway.? (haruse BBB ya,.. bahan bakar busway,. hehehe..). Wah,.. susah juga njelasinnya neh. Gimana kalo kita urutin dari awal. Setujaa.?
Alkisah pada jutaan tahun silam (persis crita2 dongeng di majalah mentari,..hehee.), makhluk2 hidup yang telah mati akan terpendam oleh batuan, pasir, debu, dan material2 lainnya. Mereka akan semakin dalam terkubur seiring pergerakan dan perubahan permukaan bumi, cuaca, dan iklim. Kompilasi bin paket kombo dari tekanan dan panas bumi yang ada, mampu mengubah struktur organiknya menjadi apa yang kita sebut sebagai minyak bumi & gas alam. Bentuk porous atau lubang2 pada lapisan batuan merupakan lokasi ideal bagi minyak bumi untuk mengendap, sembunyi, atau bertempat tinggal (kira2 mereka punya sertifikat nggak ya,.?? takutnya diusir satpol PP. hehe). Dan jebakan alam yang terbentuk dari batuan tanpa rongga merupakan pengumpul alami bagi minyak bumi & gas alam agar tidak berpindah tempat. Di sinilah teknologi seismic dimanfaatkan untuk memproyeksi lapisan2 batuan dan memperkirakan lokasi berkumpulnya dalam jumlah besar.
