10 Oktober, 2009

I love this job,..!!




Pagi itu aku tiba di Plant sedikit lebih pagi dari biasanya. Walau terpaut sekitar 5 menit, namun rona merah matahari masih belum sempat terpendar. Suasana masih gelap, sepi, bahkan jangkrik pun masih terdengar berkeliaran. Sesampai di lokasi, sedikit rutinitas administratif aku coba selesaikan.

Waktu telah menunjukkan pukul 6 lewat sepuluh menit. "Sudahlah, nanti saja aku lanjutkan" gumamku. Seperti biasa, hampir seluruh pekerja telah berkumpul di hall CCR office untuk melakukan safety meeting pagi. Mulai dari pemotong rumput, pengecek jalur pipa, teknisi mekanik, elektrik maupun instrumentasi, operator, sampai supervisor masing2 departemen telah duduk berjajar mengelilingi hall ini. Tanpa banyak menunggu, aku langsung menempati ruang kosong di tengah2 mereka dan segera memulai safety meeting pagi itu. Pembicaraan dimulai dengan isu2 safety yang ditemukan tempo hari, disambung dengan membicarakan kegiatan mereka hari itu.

Setengah jam berlalu,. dan doa penutup sudah dibacakan oleh pak U***. Segera semua membubarkan diri. sampai tiba2 supervisorku memanggil, " Bud, ntar siang kamu ke well ya,.. ke Geger Kalong 4 buat shut in. nanti kita build up pressure selama 2 hari. Kalo nggak kemaleman, sekalian ke Geger kalong 3 buat nge-adjust choke valve. Kita naikkan dikit aja buat ngimbangin jualan selama Geger kalong 4 mati. Ajak si H***** sekalian. Nanti data terakhir kamu record, en jangan lupa bawa corrosion inhibitor. Soalnya kata Pak S**** tempo hari yang di Geger Kalong 3 udah abis". "Iya Pak", jawabku singkat.

Entah apa yang sebenarnya aku rasakan saat itu. Bingung. Antara senang, males, semangat, ah,.. entah lah. Semua sangat beralasan. Senang karena ini pengalaman pertamaku ke well GK. Selain itu, dari cerita yang sudah pernah ke sana, sepertinya perjalanan bakal penuh tantangan dan pengalaman menarik. Gonta -ganti kendaraan mulai mobil, getek, ojek sampai jalan kaki. Males karena kabarnya di sana cuaca cukup panas, banyak jalan terjal, sering dijumpai binatang2 seperti biawak, ular kobra, amupun bekantan.

Tapi aku pikir, kalo tidak pernah mencoba, tentu tidak bisa membuktikan apapun. Ok,. aku putuskan untuk ke sana. Meskipun dengan berbagai resiko yang mungkin aku temui nantinya.



Kami berangkat pukul 2 siang lebih. Sedikit terlambat karena banyak hal yang mesti dipersiapkan mulai dari chemical, Personal Protecting Equipment, bahan makanan, maupun peralatan tulis. Perjalanan kami mulai dari pintu masuk Plant. Setelah melewati security check yang cukup menghabiskan waktu sekitar 5 menit, kami lanjutkan perjalanan dengan sebuah Ford Ranger warna Silver membelah hutan dan perkebunan sawit milik warga. Jalanan yang kami lewati cukup terjal. Terbukti, beberapa kali drum chemical terguling dan kami mesti menghentikan laju kendaraan untuk memposisikannya kembali.


Sesampai di sebuah dermaga kecil dengan papan tertulis "Jetty Landing", kami hentikan laju kendaraan. kami akan beralih menaiki sebuah perahu motor. Dari sini saja aku sudah cukup merasakan kepuasan yang berarti. Tidak kusangka pemandangan sungai Batanghari akan seindah sore itu. Hawa sejuk mulai merasuk mengisi relung2 kalbu dan mengusir kepenatan jiwa selama hampir 10 hari "terpenjara" di lokasi pekerjaan. Tak perlu menunggu lama, perahu motor yang penduduk sekitar sebut sebagai "getek" itu telah bersandar di dermaga. kami segera menaikinya dengan tak lupa membawa serta seluruh barang bawaan.


Perahu segera berlayar membelah sungai batang hari dari tepi kiri melawan arus yang sebenarnya tidak begitu deras. Subhanallah, ini lebih dari apa yang aku harapkan sebelumnya. Di atas tampak matahari telah sedikit kehilangan intensitasnya dengan menyisakan sejumlah rona merah khas langit senja. Angin berhembus cukup lembut dan menyela setiap sisi tubuh yang ditemuinya. Di kanan kiri masih tampak pemandangan hijau pepohonan yang begitu alami. Tampak arus kemajuan jaman belum mampu menyentuh daerah ini. Di kejauhan beberapa penduduk tengah menambang emas dengan semangat, meskipun hanya secara tradisional. Rumah2 gubuk ataupun rumah2 panggung terlihat sangat leluasa di atas sana. Beberapa wanita tampak mencuci baju dengan diselingi senda gurau di antaranya. Anak2 kecil bermain air sambil sesekali melompati kayu yang telah tumbang dan terdampar di tepi sungai. Tak jarang air sungai yang cukup jernih ini terpercik ke muka kami. Sungguh perjalanan yang tak terlupakan.



Aku begitu menikmati detik demi detik perjalanan air ini. Seakan tidak rela untuk segera sampai di dermaga tujuan. Tak terasa telah satu jam kami berada di atas perahu motor. Dermaga tujuan pun telah berhasil di capai. Kami turunkan semua barang bawaan dan melanjutkan kembali perjalanan darat menggunakan mobil sejenis yang kami tumpangi tadi. Kali ini jalan yang kamu lewati sedikit lebih terjal. Hutannya pun terlihat lebih rimbun. Sesekali kami temui pohon2 karet siap panen milik warga sebelum kembali melewati hutan alami yang masih perawan. Sungguh menyenangkan mengalami ini semua.



Dan kembali, aku terpaksa menemui tujuan setiap perjalanan, yang kali ini berupa sumur yang notabene tujuan akhir dari semua pengalaman indah tadi. Tak kusangka, sebuah pekerjaan bertajuk "well activity", menjadi sebuah pengalaman traveling yang sangat menyenangkan dan begitu mengesankan.


06 Oktober, 2009

God,.. Please forgive me..!!


“Terserah bapak saja”, jawabku singkat atas ajakan Pak ***. Sore itu aku terlalu lelah untuk melanjutkan perjalanan jauh yang telah kami mulai empat jam yang lalu. Aku tidak ambil pusing kemana mobil ini akan membawaku nanti. Karena dari kata2 beliau, hanya muncul bayangan tempat yang menyenangkan, santai, dan rileks di kepalaku. Sesuai dengan apa yang aku butuhkan saat itu.

Rupanya mobil telah berhenti di depan sebuah rumah makan mewah yang entah apa namanya (kepalaku terlalu malas untuk sekedar menyimpan sementara memori nama rumah makan yang telah terbaca oleh mata). Kami turun segera setelah mobil bener2 berada pada posisi yang tepat untuk parkir. Tentu saja kami tidak berdua saja. Saat itu ada tiga orang lagi bersama kami. Semuanya terlihat letih dan kurang bersemangat mengingat lamanya kami dalam perjalanan tadi.

Rupanya malam itu cukup banyak pengunjung yang datang. Kami menghabiskan waktu cukup lama untuk berjalan menyusuri meja2 yang telah terisi entah itu satu keluarga, beberapa pekerja kantoran, sampai beberapa pemuda yang sengaja berkumpul di situ untuk menghabiskan malam mereka dengan santai. Akhirnya sampailah kami di sudut kanan restoran. Terlihat meja yang kosong dengan beberapa buah kursi mengelilinginya. Kami putuskan di situlah kami akan rehat sejenak menghilangkan lelah sambil menikmati santap malam.

Sebuah panggung besar dengan jarak lumayan jauh cukup terlihat dari meja kami. Rupanya malam itu mereka sedang mengadakan fashion show. Entah apa motifnya, karena bagiku terasa kurang ada korelasi yang tepat antara rumah makan dan pagelaran adibusana. Tapi sudahlah,. Toh tidak mengganggu acara makan malam kami. Aku terlalu asyik menikmati nasi goreng yang aku pesan beberapa menit lalu, sampai tiba2.. seorang wanita melintas di samping meja kami. Tidak sampai di situ,.. beberapa rekannya juga melakukan hal yang sama.

Aku perhatikan,. Ternyata mereka lah para model fashion show itu. Aku tidak habis pikir, mengapa mereka bisa sampai di sini.? Padahal panggung itu sudah cukup lebar bagi mereka semua kalau hanya untuk sekedar berlenggak lenggok dan memamerkan model pakaian yang sedang mereka kenakan. Ow,.. rupanya celah di antara meja2 makan yang ada di restoran inilah “cat walk” mereka yang sebenarnya.

Lagi lagi aku tidak ambil peduli dengan itu semua. Aku anggap ini hanya sebagian kehidupan malam yang belum sempat aku ketahui keberadaannya. Kami selesaikan makan malam kami sembari menikmati hiburan yang tak terduga ini.

Kami kembali ke mobil setelah merasa cukup bugar untuk melanjutkan sedikit lagi perjalanan yang tersisa. Aku tahu, ini terlalu malam untuk bisa sampai ke tujuan awal. Kami memutuskan untuk beristirahat di sebuah rumah penginapan untuk keesokan harinya dapat melanjutkan kembali perjalanan yang tertunda.

Tapi tunggu dulu,.. perasaanku berubah tidak menyenangkan saat aku ketahui mobil yang kami tumpangi tiba2 parkir di depan sebuah tempat hiburan bertajuk “karaoke”. Aku spontan menanyakan maksud semua ini. Dengan entengnya beliau menjawab,” sudah gag papa, kita mampir sebentar aja kok,  nggak sampai jam 12 kita sudah sampai di hotel”. Jawaban yang cukup melegakan. Namun masih saja belum mampu menghapus seluruh keheranan di kepalaku.

Aku coba menawarkan diri agar menunggu saja di mobil sampai urusan beliau di tempat ini bisa diselesaikan. Rupanya beliau keberatan dan terus memaksaku agar bergabung dengannya. Entah setan apa yang lewat saat itu, sehingga aku mengiyakan bujukannya. Rupanya rasa penasaran semakin mendukung keputusanku.

Kami semua memasuki gedung itu melalui sebuah lift dari dinding pojok parkiran. Si operator lift membawa kami ke lantai 3 yang aku lihat di daftar sebagai “ruang karaoke”. Sekeluar dari lift, kami telah sampai di sebuah meja resepsionis dengan karyawati yang berdandan tidak lazimnya seorang pekerja kantoran. Meski belum bisa disebut minim, tapi sudah di luar koridor busana sopan.  Akhirnya salah seorang dari mereka membawa kami melewati sebuah lorong yang merupakan akses menuju ruang karaoke yang beliau maksud. Pada saat itu,. Nalarku sudah mencium ketidaksetujuan. Aku sudah kehilangan rasa penasaran yang tadi begitu kuat membawaku ke tempat ini.

Dengan langkah yang cukup berat aku ikuti mereka ke sebuah ruang gelap. Begitu tirai dibuka, tampak beberapa wanita sedang duduk di dua atau tiga sofa yang ada di sudut2 ruangan itu. Astagfirullahal’adzim,… aku segera palingkan wajahku dari mereka. Kali ini aku bisa sebut tidak sopan atas busana yang mereka kenakan. Untungnya, aku tidak sendiri, ada satu orang lagi dari kami yang sependapat denganku. Di saat yang lain sibuk memilih “wanita” untuk menemani mereka berkaraoke, kami putuskan menghindar dari “spot” itu, walaupun masih di tempat yang sama. Entah transaksi apa yang mereka lakukan tadi, namun mereka kini telah berpasang pasangan dan memasuki sebuah ruangan yang tersedia.

Aku dan seorang lagi yang tidak ikut serta, memilih untuk mencari tempat menunggu yang pas sambil menikmati masing2 sebotol soft drink. Dalam hatiku bertekad,.. ini mungkin pengalaman pertamaku berada di tempat maksiat seperti ini, namun aku pastikan, inipun akan menjadi pengalaman terakhirku. Dalam hati aku berdoa,” Ya Allah, keluarkanlah kami dari tempat ini sesegera mungkin,.. Ampuni aku yang telah terbujuk rayuan syaitan melalui bisikan penasaran di hati. Semoga Engkau tidak meninggalkan aku dalam keadaan seperti ini”.

02 Oktober, 2009

Tipuan Panca Indera..!! (bag.1)

Percayakah kamu dengan kelima indera yang kamu miliki.? Apakah dengan mereka saja kamu sudah merasa cukup mampu mengenal dunia dengan sebenar2nya.? Sebelum kamu benar2 yakin, coba renungi beberapa fakta berikut:



1. Mata, indera penglihatan.

Pasti kamu beranggapan jika inilah indera yang paling bisa dipercaya untuk mampu mengenal lingkungan dan segala sesuatu di sekitar kita. Itulah mengapa muncul istilah "melihat dengan mata kepala sendiri". Seakan jika telah mengenal sesuatu melalui indera ini, maka itulah yang sebenarnya terjadi. tapi benarkah demikian.?

Ketika kamu terdampar di sebuah padang pasir yang panas di terik siang, atau kamu sedang berada di atas jalan raya beraspal pada pukul 12 siang, mata akan melihat adanya air di kejauhan. Semakin panas keadaannya, semakin banyak air yang bisa kamu lihat. Padahal pada situasi seperti ini kamu benar2 tahu jika itu hanya fatamorgana.

Berdasarkan teori fisika alam, suatu peristiwa "melihat" adalah ketika sebuah objek yang berada di titik fokus mata kita mampu menghasilkan ataupun memantulkan cahaya sehingga cahaya tersebut dapat ditangkap oleh sistem penglihatan kita. Jadi jelas, fenomena melihat sangat tergantung pada sebuah materi yang bernama cahaya. Fakta pentingnya, cahaya merambat secara bergelombang dengan kecepatan 300 ribu kilometer per detiknya. Dalam kepadatan ruang tertentu, ia mampu berubah arah maupun kecepatannya. Bukti: masukkan sebuah pena di dalam gelas yang terisi air putih setengah bagian. Apakah yang kamu lihat adalah kejadian sebenarnya.? jangan terlalu yakin.

Sebagai materi dengan kecepatan luarbiasa (meskipun tetap mampu terukur) cahaya di gunakan sebagai media "angkutan" pesan tertentu dalam sebuah serat optik dengan jarak relatif dekat (untuk pendekatan dunia skala cluster /jagad raya). Tapi untuk jarak relatif jauh, masihkah kita percaya dengan cahaya yang notabene merupakan syarat utama terjadinya proses melihat.? Bukti: Jagad raya terbentuk dari milyaran bahkan trilyunan galaksi. "Milky way" atau galaksi bima sakti sebagai tempat beredarnya bumi yang kita diami pun terdiri dari milyaran bahkan trilyunan planet, satelit alam, bintang, dan benda2 langit lainnya.

Cahaya yang dihasilkan matahari (bintang terdekat dari planet bumi) saja membutuhkan waktu kurang lebih 8 menit untuk merambat sampai ke bumi. Lantas bagaimana dengan bintang2 lain yang berjarak 8 hari, 8 bulan, 8 tahun, bahkan 8 milyar tahun cahaya.? Padahal kita melihatnya setiap malam ketika langit sedang cerah. Jadi, saat kamu melihat sebuah bintang berkedip di langit pada detik ini, yakinkah kamu jika bintang itu benar2 berada di sana saat ini.? Jangan terlalu berharap. Karena pada kenyataannya, kamu sedang menyaksikan keadaan bintang tersebut pada 8 hari, 8 bulan, 8 tahun, bahkan 8 milyar tahun yang lalu.

Analogi sederhana, misalkan bintang yang kita lihat itu berjarak 8 tahun cahaya. Sedangkan 6 tahun lalu bintang tersebut telah hancur akibat bertabrakan dengan bintang lainnya. Maka jangan heran, jika bintang yang kita lihat berkedip dengan cantiknya di langit saat ini, sebenarnya sudah tidak ada lagi.

Apakah kamu masih beranggapan bahwa waktu adalah dimensi yang kekal yang tak mampu dihentikan, dipercepat, diperlambat, atau diputar ulang.?? Renungkan kembali keyakinan kamu,..

Maka, jika mata mampu berwujud manusia, maka ia adalah orang yang paling sering menipu kita.

Wake up, September will be end,..!!


"♪♫Some people stand in the darkness.♪Afraid to step into the light,.♪♫"

Lagu ini terdengar nyaring dari atas meja samping kasurku. Percaya atau tidak, inilah lagu pengantar segala aktifitas harianku. Dan hari itu aku tahu jika waktu telah menunjukkan pukul 16:00 tanpa perlu melihat jam. Tak ubahnya seperti robot, aku melakukan rutinitas yang hampir presisi setiap harinya selama 7 hari berturut2. Seperti update terbaru dari sebuah software bernama "budi iswanto", ini adalah program yang telah terinstall sebagai aktifitas paling efektif yang bisa aku lakukan selama bertugas di shift malam.

Seperti sebuah program PLC dengan logika "if" dan "then", maka hampir dapat dipastikan tidak ada deviasi atas rutinitasku setiap hari. Misal,

"if" it is 06:00 am, "then" I will go back to camp.
"if" it is 07:30 am, "then" I will get my rest time.
"if" it is 12:30 pm, "then" I will wake up to take a pray.
"if' it is 04:00 pm, "then" I will wake up to go bath + take a pray
"if it is 05:40 pm, "then" I will go to Plant
'
Sudah satu jam lebih aku terjaga semenjak dering alarm hp berhasil dengan gemilang membangunkan aku. Saat itu, aku sedang duduk terpaku dengan jarak sekitar 4 meter di depan sebuah kotak gambar bersuara yang berukuran 42 inchi. Mungkin ini kegiatan yang paling aku sukai untuk menanti saatnya waktu bertugas. Sampai tiba2,.. sebuah kejadian luar biasa melakukan "interupt",

Kursi yang aku "jajah" terasa berontak,..
Kotak gambar itu bergerak ke kiri dan ke kanan,..

Sontak aku mengungsikan diri ke luar. Aku terperangah saat melihat pohon2 terombang-ambing, tiang2 lampu jalan melambai-lambai, Terdengar sirene emergency meraung2 dengan kerasnya. Tanpa banyak bertanya, aku dan beberapa penghuni hutan ini bergegas mendatangi muster point. Tempat yang dikhususkan untuk berkumpul dalam keadaan bahaya. Camp bos segera mendata POB (personil on board) untuk memastikan tidak ada penghuni yang tertinggal di tempat lain. Beberapa saat setelah guncangan mereda, kami membubarkan diri dengan sedikit perasaan cemas. Terutama bagi mereka yang memiliki keluarga di daerah Pariaman, Padang, setelah mendapat informasi sumber guncangan ini. Berdiri pada jarak yang cukup jauh ini saja sudah dapat membuatku merasakan guncangan yang cukup hebat. Lantas, bagaimana dengan orang2 yang berada dekat dengan sumber gempa.?

Dan,.. kekhawatiranku terjawab setelah keesokan harinya kembali menyaksikan kabar kejadian sore ini melalui kotak gambar di ruangan tadi..

Innalillahi wa Inna Ilaihi Rajiuun.
Dan pada sisi Allah kunci-kunci yang gaib, tidak ada yang mengetahuinya selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan diketahui-Nya.