06 Oktober, 2009

God,.. Please forgive me..!!


“Terserah bapak saja”, jawabku singkat atas ajakan Pak ***. Sore itu aku terlalu lelah untuk melanjutkan perjalanan jauh yang telah kami mulai empat jam yang lalu. Aku tidak ambil pusing kemana mobil ini akan membawaku nanti. Karena dari kata2 beliau, hanya muncul bayangan tempat yang menyenangkan, santai, dan rileks di kepalaku. Sesuai dengan apa yang aku butuhkan saat itu.

Rupanya mobil telah berhenti di depan sebuah rumah makan mewah yang entah apa namanya (kepalaku terlalu malas untuk sekedar menyimpan sementara memori nama rumah makan yang telah terbaca oleh mata). Kami turun segera setelah mobil bener2 berada pada posisi yang tepat untuk parkir. Tentu saja kami tidak berdua saja. Saat itu ada tiga orang lagi bersama kami. Semuanya terlihat letih dan kurang bersemangat mengingat lamanya kami dalam perjalanan tadi.

Rupanya malam itu cukup banyak pengunjung yang datang. Kami menghabiskan waktu cukup lama untuk berjalan menyusuri meja2 yang telah terisi entah itu satu keluarga, beberapa pekerja kantoran, sampai beberapa pemuda yang sengaja berkumpul di situ untuk menghabiskan malam mereka dengan santai. Akhirnya sampailah kami di sudut kanan restoran. Terlihat meja yang kosong dengan beberapa buah kursi mengelilinginya. Kami putuskan di situlah kami akan rehat sejenak menghilangkan lelah sambil menikmati santap malam.

Sebuah panggung besar dengan jarak lumayan jauh cukup terlihat dari meja kami. Rupanya malam itu mereka sedang mengadakan fashion show. Entah apa motifnya, karena bagiku terasa kurang ada korelasi yang tepat antara rumah makan dan pagelaran adibusana. Tapi sudahlah,. Toh tidak mengganggu acara makan malam kami. Aku terlalu asyik menikmati nasi goreng yang aku pesan beberapa menit lalu, sampai tiba2.. seorang wanita melintas di samping meja kami. Tidak sampai di situ,.. beberapa rekannya juga melakukan hal yang sama.

Aku perhatikan,. Ternyata mereka lah para model fashion show itu. Aku tidak habis pikir, mengapa mereka bisa sampai di sini.? Padahal panggung itu sudah cukup lebar bagi mereka semua kalau hanya untuk sekedar berlenggak lenggok dan memamerkan model pakaian yang sedang mereka kenakan. Ow,.. rupanya celah di antara meja2 makan yang ada di restoran inilah “cat walk” mereka yang sebenarnya.

Lagi lagi aku tidak ambil peduli dengan itu semua. Aku anggap ini hanya sebagian kehidupan malam yang belum sempat aku ketahui keberadaannya. Kami selesaikan makan malam kami sembari menikmati hiburan yang tak terduga ini.

Kami kembali ke mobil setelah merasa cukup bugar untuk melanjutkan sedikit lagi perjalanan yang tersisa. Aku tahu, ini terlalu malam untuk bisa sampai ke tujuan awal. Kami memutuskan untuk beristirahat di sebuah rumah penginapan untuk keesokan harinya dapat melanjutkan kembali perjalanan yang tertunda.

Tapi tunggu dulu,.. perasaanku berubah tidak menyenangkan saat aku ketahui mobil yang kami tumpangi tiba2 parkir di depan sebuah tempat hiburan bertajuk “karaoke”. Aku spontan menanyakan maksud semua ini. Dengan entengnya beliau menjawab,” sudah gag papa, kita mampir sebentar aja kok,  nggak sampai jam 12 kita sudah sampai di hotel”. Jawaban yang cukup melegakan. Namun masih saja belum mampu menghapus seluruh keheranan di kepalaku.

Aku coba menawarkan diri agar menunggu saja di mobil sampai urusan beliau di tempat ini bisa diselesaikan. Rupanya beliau keberatan dan terus memaksaku agar bergabung dengannya. Entah setan apa yang lewat saat itu, sehingga aku mengiyakan bujukannya. Rupanya rasa penasaran semakin mendukung keputusanku.

Kami semua memasuki gedung itu melalui sebuah lift dari dinding pojok parkiran. Si operator lift membawa kami ke lantai 3 yang aku lihat di daftar sebagai “ruang karaoke”. Sekeluar dari lift, kami telah sampai di sebuah meja resepsionis dengan karyawati yang berdandan tidak lazimnya seorang pekerja kantoran. Meski belum bisa disebut minim, tapi sudah di luar koridor busana sopan.  Akhirnya salah seorang dari mereka membawa kami melewati sebuah lorong yang merupakan akses menuju ruang karaoke yang beliau maksud. Pada saat itu,. Nalarku sudah mencium ketidaksetujuan. Aku sudah kehilangan rasa penasaran yang tadi begitu kuat membawaku ke tempat ini.

Dengan langkah yang cukup berat aku ikuti mereka ke sebuah ruang gelap. Begitu tirai dibuka, tampak beberapa wanita sedang duduk di dua atau tiga sofa yang ada di sudut2 ruangan itu. Astagfirullahal’adzim,… aku segera palingkan wajahku dari mereka. Kali ini aku bisa sebut tidak sopan atas busana yang mereka kenakan. Untungnya, aku tidak sendiri, ada satu orang lagi dari kami yang sependapat denganku. Di saat yang lain sibuk memilih “wanita” untuk menemani mereka berkaraoke, kami putuskan menghindar dari “spot” itu, walaupun masih di tempat yang sama. Entah transaksi apa yang mereka lakukan tadi, namun mereka kini telah berpasang pasangan dan memasuki sebuah ruangan yang tersedia.

Aku dan seorang lagi yang tidak ikut serta, memilih untuk mencari tempat menunggu yang pas sambil menikmati masing2 sebotol soft drink. Dalam hatiku bertekad,.. ini mungkin pengalaman pertamaku berada di tempat maksiat seperti ini, namun aku pastikan, inipun akan menjadi pengalaman terakhirku. Dalam hati aku berdoa,” Ya Allah, keluarkanlah kami dari tempat ini sesegera mungkin,.. Ampuni aku yang telah terbujuk rayuan syaitan melalui bisikan penasaran di hati. Semoga Engkau tidak meninggalkan aku dalam keadaan seperti ini”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar