[ Ojo turu ae tah Bo (kebo, red), ndang nyambut gawe kono..!!]
[Ngu (Tengu, red), sido po ora, kok kaet maeng gag budhal2.??]
Rupanya kata2 serupa tidak bener2 hilang dari pendengaranku. Padahal, dengan berdiri pada jarak lebih dari 1500 km, aku berharap tidak lagi mendengar kata2 yang tidak "sedap" di telinga. Perbedaan kultur, adat, dan tentu saja watak, nyaris saja melengkapi harapanku ini. Tapi setelah aku mendengar beberapa kalimat,
[Oy,. Meng (entah apa artinya, yang pasti ini bukan nama aslinya),.. apo dio gawe kawan kito sikok ni.??]
[Pek (Apek, red),.. cakmano, galak idak kao gantikennyo.?]
Rupanya tidak ada beda. Meski dengan bahasa yang berlainan, "cela" ini masih saja melekat pada ucapan yang terlontar dari mulut mereka. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan kalimat2 itu. Tapi sayang, mengapa mereka harus mengawalinya dengan menyakiti hati orang lain.?
Nama. Setiap orang pasti memilikinya. Selain untuk membedakan antara yang satu dengan yang lain, nama merupakan "identitas" bagi pemiliknya. Di setiap nama terletak doa setiap orang tua. Tentu tidak ada orang tua di dunia ini yang sembarangan mewariskan "kata pengenal" bagi keturunannya. Setumpuk harapan, keinginan, dan kecintaan telah mereka sematkan sebelum memutuskan kata yang tepat untuk dibawa anak seumur hidupnya.
Lantas, apa hak kalian.? Mengapa tanpa perasaan bersalah sedikitpun, seenaknya merubah itu semua.? Apakah dengan melakukannya, membuat kalian merasa hebat dan berkuasa atasnya? Apakah itu semua akan memperlancar komunikasi kalian.? Apakah kalian berharap semua akan baik2 saja?
Aku rasa tidak. Kalian telah menusuk perasaan seseorang bahkan sebelum kalian selesaikan kalimat itu. Dan jika setelahnya kalian mengharapkan ekspresi dan reaksi yang murni, kalian salah. Senyum yang tampak di wajah saudara kalian itu hanya untuk menutupi sesak di dada. Meski ia coba untuk tidak mengambil serius ucapan itu, tetap saja ada goresan di hatinya.
Jadi, jika kalian bisa memanggil ia dengan nama yang telah diwariskan orang tuanya, mengapa tidak dilakukan saja. Apakah kalian akan menanggung beban karena melakukannya? Ataukah kalian lebih memilih untuk semakin mengeraskan hati dan memanggil saudara2 kalian dengan julukan yang tidak mereka sukai dan beranggapan tidak ada yang salah dengan itu semua.? Apakah kalian ingin menambah goresan di hati saudara kalian.?
Nama, agama, keluarga bahkan ekspresi adalah hak paling asasi bagi manusia, kita berhak meyakini dan menjadikannya identitas, tapi toh pada dasarnya semua itu melekat bahkan sebelum kita benar2 lahir di dunia dan benar2 memilihnya untuk kita sendiri...
BalasHapusApalah arti nama jika tak bisa berarti bagi kita, seperti sebuah KTP kosong bukan...toh semua ada + dan - nya. Jika nama adalah doa toh kita tak diperkenankan juga berdoa terlampau lantang tapi tak ada usaha.
komeng pun sounds great kalo kita presiden hehe..jadi knp kita g berbuat yg terbaik buat identitas kita dibanding menggerutu karena panggilan sayang yang tak berkenan di hati oleh sahabat & kerabat...
dont take it serously, this only comment anw *_^ caiyooooo!!! keep writing yua
Hehehe,.. Aku paham knapa Icha breaksi. Tentu panggilan sayang seperti Icha, Ichi, Ocha, Acha, Echa, dan cha cha lainnya [kok kayak nama permen yak,.? (^_^),..] gag termasuk julukan yang akan menggoreskan hati. Bahkan mungkin malah mewarnainya. Buktine, Icha bangga memilikinya, en aku tetep manggil Icha meski bukan nama asli. Yah, semoga semua sadar dengan apa saja yang keluar dari "harimau"nya. Icha jg keep writting ya,.!!
BalasHapus