12 Agustus, 2009

Day to day in my work Day

Manusia emang diciptakan sebagai tempat mengeluh. Sudah dapet ini,.. minta itu. Sudah dapet itu,... minta ini. Sudah dapet ini itu,.. minta lagi. Just like me. Dikasih banyak kerjaan,.? ngeluh. kenapa gag da abise seh kerjaan ni.? mana di luar panas ,lagi,.!!! eh,.. giliran dikasih ujan, ngeluh lagi. Kalo gini gimana bisa kerja,? Udah itu dikasih dikit kerjaan.? lagi2 ngeluh. Kok gag da kerjaan seh.? Ngapain ini enake.? Mana waktu jadi krasa lama. waduh,..!! emang dasar manusia. Yah,.. beginilah aku.


Di sini. Di tempat ini. Di suatu tempat nun jauh di dalam hutan jambi. Tempat puluhan orang yang telah terbeli sebagian hidupnya. Tempat mereka menghabiskan sebagian hidup jauh dari hingar bingar dunia luar. Jauh dari gemerlap dunia perkotaan. Jauh dari kesederhanaan kehidupan desa. Jauh dari kehidupan normal yang mereka jalani sebagiannya. Dan, disini,.. Di tempat inilah aku berada. Karena tidak lain dan tidak bukan, aku adalah salah satu dari mereka.


Setiap hari, hanya tampak orang bergelut dengan benda mati yang "dihidupkan". Untuk membedakannya, mereka hanya memberi nama yang berlainan. Kadang mereka menyebut "turbin" untuk benda yang mereka sebut penghasil daya itu. Ada yang mereka namakan "pompa" untuk benda yang bisa memindahkan cairan. Mereka panggil benda itu "kompressor" jika mampu menaikkan tekanan gas. Dan sebutan2 aneh lain yang pasti akan asing di telinga orang awam. Tapi gag masalah bagi mereka. Toh,. penyebutan itu untuk mereka pakai sendiri.


Dan karena aku adalah salah satu dari mereka, mau tidak mau aku harus menerima kenyataan ini. Dan tentu saja, aku mesti mengakrabkan diri dengan benda2 tadi agar aku tidak salah meng"hidup"kannya. Tapi tak apalah,. toh mereka bukan manusia yang akan marah jika aku berbuat kesalahan padanya. Aku pun tidak perlu meminta maaf untuk itu. Jadi, aku bisa memperlakukan mereka semauku. Meski dengan resiko, mereka tidak mau di"hidup"kan lagi jika bener2 marah.


Di sinilah aku di sebuah tanah lapang di tengah hutan. Dengan benda2 tadi yang dipasang se"enak"nya engineer. Para pemikir inipun dengan tanpa rasa bersalah menghalangi akses kami untuk berpindah dari satu benda ke benda lain, meletakkan pipa-pipa bersilangan di antaranya. Ada yang mereka sebut jalur gas, jalur kondensate, jalur air, jalur flare, dan jalur2 apalah itu. Terkadang mereka menempatkan sebuah tabung besar horisontal dengan beberapa lubang yang telah mereka sambung sendiri dengan pipa2 tadi. Dan akhirnya mereka memaksa kami menghapalkannya sebagai sebuah "separator", "feed drum", "accumulator", dan nama2 lain yang membedakannya masing2 diantaranya.


Tapi bagaimanapun juga, manusia memang tempatnya lupa. begitupun para pemikir tadi. Entah disengaja atau tidak, mereka meletakkan salah satu tabung tadi dengan arah vertikal. Dan mungkin karena sudah terlanjur menyambungkannya, kembali dengan pipa2 yang saling bersilangan itu, mereka tidak mau menyebut itu sebagai sebuah kesalahan. dan lagi2, mereka membuat kami mengenalnya sebagai "stabilizer" untuk membuatnya berbeda dengan yang lain.


Ya sudahlah,... inilah aku. yang sudah memilih untuk berada di tengah2 mereka. Meskipun begitu, aku akan tetap memilih jalan ini meski diberi kesempatan kedua. Karena dari sinilah, aku dapat menggantungkan masa depanku lebih cerah dari sebagian mereka yang hidup normal di luar sana.







4 komentar:

  1. Heeee.... Bud...
    Mungkin memang inilah kehidupan kita selepas kuliah ya... Bekerja dengan benda yang di'hidup'kan, atau malah berkerja dengan benda hidup ?... ^^
    Apapun itu, kita pasti dapat bagian yang terbaik, karena kita pasti berguna diantara mereka... Bukankah Alloh menciptakan kita untuk mengisi suatu peran di dunia ?...
    Semangaaaat!!!!!!

    BalasHapus
  2. Yups,. bener banget my Sis. Allah menciptakan kita sebagai penyebab bagi orang lain. Seperti buah domino dalam skala cluster. Meski kita tampak kecildan tidak berarti, namun sebenarnya kita telah menempati satu posisi yang akan sangat berpengaruh bagi kehidupan orang lain kelak. semoga kita bisa memerankan posisi ini dengan baik sehingga orang lain akan menerima sebab yang baik dari diri kita.. Amin,.!!! Thank you Nita,..!!!

    BalasHapus
  3. Manusia adalah manusia yang paling pintar dalam hal "mengeluh". dikasih A minta B. Udah dapet B ternyata minta A. Kalo gak gitu namanya bukan manusia.
    Katanya Mario Teguh, setiap orang punya peran dalam kehidupannya masing-masing. Peran itu musti dijalankan dengan sebaik-baiknya.
    Kalo kebetulan peranmu adalah kerja di lingkungan bendda mati yang dihidupkan, maka peranku adalah kerja di lingkungan yang hampir semua hidup. Banyak ketemu orang maksude,hehe

    BalasHapus
  4. Hehehe,. bener banget yang Isma bilang. Kalo kata almarhummah Nike Ardilla, "Dunia ini, panggung sandiwara. Ceritanya mudah berubah,..... Setiap kita, punya satu peranan, yang harus kita mainkan. Ada peran wajar, dan ada peran berpura2. En bla..bla..bla.."
    Tapi, apapun perannya, minumnya,..t** b**** s****. hehehe,.. Intermezzo dulu.
    Ya,.. semoga aku bisa meranin tokoh "budi iswanto" di dunia ini dengan sebaik2nya. Jangan sampai ada yang terkena "sebab buruk" dariku. Meskipun itu tidak disengaja. Nauzubillahmindzalik,..
    Bai de we, thank you berat my Sis. Udah mo berkunjung ke blogku yang gag jelas ini,. Gut lak for we all.

    BalasHapus