Sungguh menyenangkan apabila segala sesuatu berlangsung, bermakna, bahkan bernilai tersendiri. Jika semua hal memiliki awal, proses, dan akhirnya masing2 tanpa tergantung oleh hal lainnya. Kalaupun ada keterikatan itu hanya kebetulan, dan sebagai upaya penyederhanaan saja. Ataupun hanya berarti hal lain serupa yang berjalan berlawanan arah dari apa yang kita lakukan. Hal ini tentu akan mengurangi rasa ketergantungan, pamrih, bahkan mungkin riya'.
Sebuah contoh kecil, ketika kita memutuskan akan meletakkan sebuah koin 5 ratusan ke tangan seorang pengemis, alangkah indahnya jika bukan hanya mata lahir saja yang tidak tergerak untuk menoleh dan mencari sepasang mata lain yang akan menumbuhkan kebanggaan atas pribadi kita. Melainkan hati juga semampunya untuk tidak sedikitpun menengok demi secuil rasa bangga atas perbuatan itu. Kontak mata dengan si pengemis pun dihindarkan dari melebihi batas "terlihat" sehingga tidak memasuki area "melihat" atau bahkan "memandang" (bahkan amat sangat berlebihan jika sampai "memperhatikan") agar ikatan emosional yang terbangun tidak sampai menumbuhkan benih2 riya'.
Misalkan lagi, ketika melihat seseorang sedang dalam kesulitan, sebuah nilai positif jika ada inisiatif untuk meringankan beban orang tersebut dan tidak mengurangi kadar kebaikan jika ia yang mendahului inisiatif kita dengan meminta bantuan. Toh itu hanya masalah pihak pemberi dan penerima interaksi tanpa ada penilaian lebih atas posisi satu dan lainnya. Berusaha semampunya tanpa mengukur kadar bantuan dengan efek timbal balik yang diharapkan, tentu rasa puas akan apapun yang kita berikan tidak mampu tereduksi dengan hal2 lain serupa yang kita terima nantinya.
Maka, dari kedudukannya tsb, sebenarnya konsep berbuat baik dapat berjalan searah. Cukuplah kita melakukannya sebaik baiknya, dan biarkan Allah SWT yang menilai sejauh mana tanggungjawab kita terhadap apa yang kita lakukan.
Sangat indah jika semua berjalan searah. "Semua" berlaku untuk segala sesuatu yang kita niatkan, ucapkan, atau lakukan. Termasuk dalam ibadah, hubungan sosial, kepedulian lingkungan, bahkan urusan asmara sekalipun.
Lakukan yang terbaik yang bisa kita mampukan, jangan terpengaruh dengan apa yang akan orang lain lakukan untuk kita. kebaikan yang kita berikan untuk orang lain sebaiknya setulusnya tanpa memandang kebaikan yang mungkin orang lain berikan kepada kita. kebaikan yang kita lakukan harusnya berjalan searah dan memiliki penilaian tersendiri, mandiri dan lengkap. Maka, kebaikan yang orang lain lakukan untuk kitapun akan bermakna serupa, dan hanya berbeda arah saja. Begitu pula dengan cinta yang kita curahkan untuk seseorang. Biarkan itu menjadi sebuah kemandirian perbuatan. Karena cinta yang mengarah ke diri kita, merupakan sebuah kemandirian lain yang semakna dengan apa yang kita berikan untuk orang lain.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar