-- Haris Hotel, Tebet. 03 januari 2010, jam 8 malam --
"Bruuk,.!!" bunyi tak merdu yang terpaksa mampir ke telinga akibat 2 buku yang baru saja aku beli beradu dengan meja kayu warna krem keputihan. jaket hitam kesukaanku terpaksa aku tanggalkan di sandaran kursi demi mengusir segera hawa panas dari dalam tubuhku. Dengan kaos warna abu2 pastel yang sedikit kekecilan dan celana jins biru bekas lebaran tahun lalu, aku lemparkan saja tubuh ini ke kasur tanpa banyak kegiatan protokoler yang biasa aku lakukan saat berada di situasi yang sama. Sejenak aku tidak ingin melakukan apapun,.. mengingat apapun,...memikirkan apapun,.. ataupun melihat dan mendengar apapun. Mencoba menyelami makna kebebasan yang meski tak sepenuhnya. Dengan badan tertelungkup dan mata terganjal bantal, untuk sementara waktu aku bisa merasakan bahwa ini adalah hal terbaik yang bisa aku peroleh. Secuil senyum yang tersungging di bibir mungkin sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan maksud dari semua kejadian tadi.
Televisi berukuran 21 inci yang tampak gelap rupanya cukup berhasil memancing tanganku untuk menekan remote dan membuatnya hidup. StarSport, MNC, HBO, Geographic Channel, dan channel2 aneh lainnya bergantian mengambil tempat di tabung itu seiring dengan tombol "next channel" yang aku tekan. Sampai tiba2 tanganku terpaku pada salah satu channel swasta nasional. "Asoy Geboy",.. judul film komedi yang sedang tayang ternyata mampu menyita hampir seluruh perhatian dan membuatku menahan diri untuk tidak menekan lagi. Bahkan membuatku lupa bahwa aku memiliki 2 buku baru yang harusnya bisa lebih menyita waktu di malam itu.
-- Bus Damri, Blok M. 04 januari 2010, jam setengah 4 pagi --
5 orang tampak mematung di dalam bus di pagi buta itu. Sedang 1 orang lainnya tampak aktif memainkan gitar tua sambil bersenandung tepat di samping tempat duduk supir. Begitu tiba di sini, biasanya aku harus menunggu sekitar 20 menit lagi sebelum bus ini membawaku ke Cengkareng. Kini aku telah mendapati diri tengah duduk di kursi ke dua deretan depan. Aku lihat kembali jam di hape, sepertinya kedatanganku terlampau cepat 15 menit dari biasanya. Bisa diperkirakan, aku harus menunggu lebih dari setengah jam untuk membuat supir bus menginjakkan kakinya ke pedal gas.
Aku langsung teringat 2 buku yang aku beli kemarin sore. tanpa banyak ba bi bu, aku bongkar isi tas biruku. merogoh di sela2 charger, snack, MP4, kopian tiket pesawat pagi ini, ID card, dan,.. akhirnya tanganku berhasil meraih kantong kresek yang dicari2. Sejenak aku berfikir untuk memilih satu judul yang harus rela aku kembalikan ke tempatnya semula demi buku lain yang akan menyita perhatianku. " Heboh Spare Part manusia" karya Agus Mustofa, seperti sebagian besar karya2nya yang lain, salah satu serial tassawuf modern ini bisa dipastikan akan membuat aku terperangah. Menggelitikiku dengan sebuah rahasia besar dari hal2 sepele yang selama ini aku ketahui namun tidak aku sadari. Akan tetapi, aku rasa terlampau berat jika harus dibaca sepagi ini.
Aku putuskan mengembalikan buku bercover hitam bergambar jantung manusia ini ke dalam tas demi mendapatkan sebuah bacaan ringan pengisi waktu luang di pagi yang cukup dingin. Adalah "perahu kertas". Novel ringan karya Dewi "Dee" Lestari yang akhirnya harus rela kehilangan sampul plastiknya. Aku mulai membaca halaman demi halaman di dalamnya. Begitu jauhnya menenggelamkan anganku sampai tanpa sadar, bus telah berhenti di terminal 3 bandara soekarno-hatta. Aku hentikan sejenak keasyikan membacanya untuk memastikan bus tidak terlewat dari Terminal 2 F, terminal domestik garuda indonesia yang akan membawaku ke Jambi pagi ini.
-- bandara soekarno-hatta, Cengkareng, jam 6 lewat 15 menit --
Keharusan menanti boarding time di gate 7 kali ini tidak lagi mampu menyuntikkan virus2 bosan di kepala. Tanpa membuang banyak waktu, aku segerakan mencari kursi yang tepat untuk melanjutkan keasyikan yang sempat tertunda. Kembali,.. alam pikiran seperti diajak menyelami drama yang terkandung di dalam buku setebal 444 halaman ini. Sesekali aku baca ulang kalimat yang sedikit asing dengan alur cerita sebelumnya, berusaha mencari benang merah yang dimaksudkan penulis. Karena rasanya tidak rela jika sedikit saja kehilangan ritme cerita yang tersaji. Dan, benar saja. Waktu 1 jam yang aku habiskan untuk ke pulau seberang tidak juga berakhir dengan mati gaya berkat buku yang sejak aku buka kemasannya tadi, tidak sempat terlepas dari genggamanku hingga aku menginjakkan kaki di tanah jambi.
to be continued,..


first comment:ur template. looks so different. I thought this wasn'nt ur blog. after i read again the address, then i realize u have changed its template :D
BalasHapushaving official journey is very great n interesting. just for the first several time. the next? i thought: "me like a machine. move to next place to another place"
keep survive Budi.. ^^
Hehee,.. just try to look for the new appearance. Is it better or even uglier than before.?
BalasHapusYes,. you right my Sis. Just like Goosen law,.The continuance, increase or repetition of the same kind of consumption yields a continuously decreasing satisfaction or pleasure up to a point of satiety. Hehehe. everything seems like programmed or scheduled and I have no much space to interrupt.
thank you Isma,.. I will. Hopefully you too.
Now,. I'm on my way to find out the new logic to be programmed to interrupt them. The new program which will make me re-born. And have a fully-loaded spirit.
hehe,.. nice to be said, but not to be done.