Aku teringat kisah inspiratif yang dikirimkan supervisorku melalui imel beberapa bulan silam. Kurang lebih seperti ini,
Pada suatu hari Aristoteles bertanya pada gurunya :
"Apakah cinta sejati itu ?"
Guru :
Barjalanlah lurus di taman bunga yg luas, petiklah 1 bunga yg terindah menurutmu. Dan jangan pernah berbalik ke belakang !
Kemudian Aristoteles melaksanakannya dan kembali dengan tangan hampa.
Guru bertanya:
mana bunganya ?
Aristoteles menjawab:
Aku tdk bsa mendapatkannya. Sebenarnya aku tadi telah menemukan sekuntum bunga yang terindah ,……. tapi aku berfikir, mungkin di depan ada yg lebih bagus lagi ...
Dan ketika aku telah sampai di ujung taman, aku baru sadar bahwa yg aku temui pertama tadi itulah yg terbaik…., sayangnya aku tidak bisa kembali lagi ke belakang ...
Guru:
Seperti itulah cinta sejati, semakin kau mencari yg terbaik, maka kau tak akan pernah menemukannya ...
Bagiku, ini kisah yang begitu menarik. Cukup sederhana, namun sarat makna. Cerita ini sangat aplikatif, jadi tidak melulu masalah percintaan. Segala sesuatu akan memiliki bagian terbaiknya, apapun itu. Namun sayangnya, terkadang ia tidak memberi petunjuk apapun saat sedang mengeluarkan bagian terbaiknya itu. Dan ketika kita sadar telah melewatkannya, maaf,.. ia tidak akan kembali lagi hanya untuk mendatangi kita. Mungkin ia akan melakukannya lagi, tapi bukan untuk kita. Tidak semata2 karena keberuntungan, pengalaman, atau intuisi yang membuat kita mendapatinya. Karena yang harus kita yakini, ini semua bukan hanya tentang kita yang mencari waktu yang tepat untuk mendapatkannya, namun apakah ia juga akan menemukan kita saat sedang mengeluarkan bagian terbaiknya itu? Sebuah kesetimbangan yang sangat adil. Dengan sedikit bantuan-Nya melalui sholat istikharah, mungkin akan jauh lebih membantu daripada semua alasan tadi. InsyaAllah,..
Ada satu gurauan yang sebenarnya sangat masuk akal, namun cukup menohok dan membuat dahi terkernyit. Pernah seorang teman memberitahuku mengenai konsep 3 B dalam mengejar sesuatu. Pertama "berdoa". ya,.. sudah menjadi kodrat manusia sebagai makhluk lemah yang tidak mempunyai kuasa apapun termasuk terhadap dirinya sendiri, untuk berdoa dan meminta pertolongan pada Dzat yang maha Kuasa. Berharap kebaikan-Nya untuk mengabulkan permintaan kita.
B kedua berarti "berusaha". Ya tentu saja kalau kita menginginkan sesuatu, kita harus mengusahakannya. Karena konsep rejeki adalah seperti menjemput seseorang di stasiun. Jika kita yang datang ke stasiun saja belum tentu berhasil menemukannya, apalagi hanya berdiam diri di rumah.
Dan B yang terakhirlah inilah yang sebenarnya cukup bikin sakit di telinga, gatal ditenggorokan, pusing di kepala, dan panas di hati. "Berkaca". Sebuah perenungan yang cukup mendalam sangat dibutuhkan untuk menelaah syarat ini. Sudahkah kita merasa pantas mendapatkan apa yang kita harapkan? Apa saja yang telah kita persiapkan untuk mendapatkannya? Apakah yang kita miliki telah setara dengan target yang kita kejar.?
Overall,.. Perlakukan, nikmati, dan anggaplah apa yang telah kita miliki sebagai bagian terbaik yang pernah kita peroleh, karena kita memang tidak pernah /perlu mengetahuinya. Gunakan ambisi dan introspeksi secara seimbang. InsyaAllah,.. tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

nice post :D
BalasHapuselle, thanks for your coming,.
BalasHapusmencintai apa adanya, tapi tidak seadanya :)
BalasHapustapi lek mencintai karena ada apanya,. piye iku Nit,.?
BalasHapus