Kebetulan.? Entah mengapa aku ragu dengan kata yang satu ini. Benarkah ada bukti otentik yang meyakinkan keberadaan fenomena kebetulan.? Apakah pernah ada satu hal, kejadian, atau peristiwa yang berlangsung tanpa alasan jelas dan terjadi begitu saja secara kebetulan.? Aku rasa aku cukup meragukan hal ini.
Dalam keyakinanku,. segala hal yang terjadi baik besar, kecil, bahkan sepele sekalipun tidak terlepas dari sebuah perencanaan sangat matang yang saling mempengaruhi satu dengan lainnya. Seperti keberadaan jagad raya yang memiliki tingkat keteraturan tak terbayangkan. Interaksi tiap galaksi terhadap galaksi lainnya, tiap planet tehadap planet lainnya, tiap asteriod, bintang, bulan, dan benda2 angkasa lain terhadap seisi alam raya. Entah bagaimana semua itu memiliki gravitasi tertentu, berotasi dan berrevolusi secara bersamaan tanpa bertabrakan satu sama lain. Sungguh sebuah bukti adanya campur tangan bersifat "Qudrat" yang tak terelakkan yang membuat ini semua terjadi. Apakah itu semua bisa disebut sebagai kebetulan belaka.? Naif rasanya jika masih berpendapat demikian. Dengan probabilitas yang jauh lebih sederhana saja, akan sulit bagi kita menalar sebuah kebetulan. Analogi sederhananya, coba kita bayangkan ketika ada satu angin topan bertiup kencang yang secara kebetulan melewati sebuah hangar perakitan pesawat terbang dan secara kebetulan pula, mampu merakit pesawat terbang secara utuh dari beratus-ratus ribu komponen pesawat yang tergeletak di lantai hangar. Kebetulan kekuatan putaran anginnya sesuai, sehingga mampu menyambungkan kepala dengan badan pesawat secara presisi. Kebetulan gaya angkat ke atas yang dimiliki tepat sehingga ekor pesawat pun mampu tersambung dengan sempurna. Begitu juga dengan instalasi turbin penggerak, jaringan kelistrikan, peralatan navigasi, bahkan sambungan keling tiap bagian pesawat yang secara kebetulan dapat terpasang secara sistematis. Coba kita pikirkan, berapa persenkah kemungkinan yang dapat kita bayangkan untuk dapat terjadinya peristiwa kebetulan ini,.? Aku yakin, hampir semua dari kita berpendapat sama. Mustahil.
Apabila merujuk dari alquranul karim, maka semua “kebetulan” ini akan patah dengan tidak terbantahkan.
“.. dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfudz)"
.
.
Aku teringat sebuah film science fiction berjudul ” A Sound of Thunder” di televisi beberapa waktu silam. Cerita ini berawal dari ditemukannya sebuah mesin waktu yang memungkinkan siapa saja bepergian ke masa lalu sesuai seting waktu yang diinginkannya. Dengan ambisi mencari keuntungan sebesar2nya dari seorang pengusaha yang berhasil membeli hak paten mesin ini, jasa “traveling” lintas waktupun ditawarkan untuk alasan kesenangan. Selama perjalanan di dalam “masa lalu”, ada tiga aturan dasar yang mereka wajib ketahui. Pertama, jangan mengubah apapun dimasa lalu. Kedua, jangan meninggalkan sesuatu dari masa kini ke masa lalu, dan yang terakhir jangan membawa apapun dari masa lalu saat kembali ke masa kini. Jika salah satu dari tiga aturan dasar ini dilanggar, maka akan berdampak pada evolusi dunia yang tidak terbayangkan. Celakanya, satu orang peserta tour ini mengindahkan aturan dan secara tidak sengaja menginjak seekor kupu2 sehingga terbawa ke masa kini. Sekembali mereka ke masa kini, gelombang evolusi mulai berjalan dan memunculkan berbagai makhluk hidup aneh, tanaman purba berukuran raksasa, dan berbagai varietas maupun spesies baru yang tidak terkendali. Dari sinilah bencana itu timbul. Dengan kata sederhana, kepakan sayap kupu2 di masa lalu dapat berarti badai mahadahsyat di masa depan.
Sedikit penggambaran ini mungkin dapat menjelaskan, bahwa apapun yang terjadi di masa lalu, masa kini, maupun yang akan terjadi di masa depan, merupakan hasil dari sebuah perencanaan yang sangat presisi, mahadetail dan terstruktur secara matang. Sama sekali tidak mengandung unsur kebetulan. Hilangnya satu tarikan nafas seekor semut di hutan jambi tanpa sepengetahuan-Nya, sangat mungkin menyebabkan bencana Tsunami di kepulauan Hawaii 300 Tahun kemudian. Sungguh, sebuah keteraturan maharumit yang hanya bisa dipahami oleh sang Khalik.
Berbicara mengenai kebetulan, beberapa hari silam aku mencari informasi harga tiket pesawat dari Jakarta ke Surabaya. Kebetulan saat aku pulang nantinya, bertepatan dengan liburan akhir sekolah yang sudah barang tentu berimbas meningkatnya harga tiket. Kebetulan aku memutuskan untuk kembali menggunakan jasa angkutan kereta api, tanpa memesan tiket terlebih dahulu. Berharap masih ada tiket tersisa untukku di peron saat aku tiba di stasiun nantinya. Begitu aku tiba di stasiun dan melihat daftar kursi tersisa untuk seluruh kereta yang berangkat ke arah timur, semua tiket telah habis terjual untuk keberangkatan hari itu kecuali 4 tiket tersisa untuk kereta TAKSAKA 2 dengan tujuan akhir Stasiun Tugu Yogyakarta. Kebetulan antrian telah berjajar sepanjang 2 baris dengan masing2 mengantri sekitar 25 orang. Begitu aku sampai di depan peron, secara kebetulan hanya tersisa 1 tiket saja. Kebetulan aku teringat seorang teman lama yang baru saja menyelesaikan studi S1 nya jurusan Biologi di UGM, Indri. Dengan bantuannya, aku mendapatkan tiket kereta api SANSAKA jurusan Stasiun Tugu Yogyakarta – Stasiun Gubeng Surabaya. Kebetulannya lagi, tiket yang ia dapatkan adalah tiket terakhir yang tersedia untuk kereta ini. Dan berbagai kebetulan2 lain yang menyertaiku selama di dalam angkot dari Stasiun wonokromo ke terminal Bungurasih, di dalam bus kota ke terminal arjosari, sampai akhirnya aku menginjakkan kaki di rumah ini. Sudah sangat banyak kebetulan yang terjadi sejauh ini. Bahkan terlalu banyak sehingga hukum probabilitas mungkin tidak akan berlaku dalam kasusku ini.
Yang mengherankan, bagaimana jika dari sekitar 50 orang pengantri di stasiun Gambir, ada 4 orang atau lebih yang memiliki tujuan sama denganku.? Mengapa hanya ada 3 orang.? Mengapa aku terfikir untuk menghubungi teman lama di Yogyakarta, bukannya memutuskan untuk membeli langsung di peron setibanya nanti, padahal aku pernah melakukannya setahun lalu di stasiun Balapan Solo dan berhasil mendapatkan tiket.? Bagaimana jika Indri sedang sibuk hari itu dan tidak bisa menolongku.? Bagaimana dengan antrian panjang yang juga ia hadapi saat menolongku mendapatkan tiket itu.? Bukankah sangat mungkin ada satu orang lagi dari puluhan orang di depannya saat itu yang memiliki tujuan kereta sama denganku sehingga ia tidak mendapatkan tiket yang aku inginkan.? Bagaimana bisa, nama kereta yang aku pesankan padanya sangat mirip dengan kereta yang aku tumpangi dari gambir, padahal aku tidak memilihnya, begitupun temanku.? Apakah ini semua berarti sekumpulan kebetulan berantai yang sama sekali tidak perlu ada penjelasan apapun atas alasan terjadinya.? Aku rasa tidak,..

siip dah!
BalasHapusThanks for visiting,.!!
BalasHapusbeneeeeerrrrr!!!< baru aja ngalami...
BalasHapushuuuuuuuuufffffffff.......
nggak ada yang kebetulan :), pasti ada maksudnya :)
Can you tell me what is it,.??
BalasHapushabis baca yang nggak boleh dibaca, hahahahaha
BalasHapusya gini ini namanya ndableg banget... Udah dijauhin ma Allah, tapi tetep aja ngeyel :p
'Kebetulan' itu bahasa manusia. Kalau kita juga tahu rencana Tuhan, kita nggak akan menyebutnya 'kebetulan'.
BalasHapus*gugling tentang semut dan gempa di Hawai*
*Anita: aku nggak begitu paham dengan konteks " yang tidak boleh dibaca". But,.. apapun itu yang penting niat en keyakinan kita nggak goyah, it's fine, Nit. kecuali kalo berbau mudhorat . hehee,..
BalasHapus*Ratih: Yups,. ratih bener. Selama kita masih memposisikan diri sebagai manusia,. InsyaAllah ilmu pengetahuan akan berkembang sesuai manfaat pada saat yang tepat. btw,. udah ketemu blum semut dan gempa hawai-nya,.?? When you have already,. let me know ya,.. :D