28 Juni, 2010

Living out town by my own (Part 1)


Aku lihat dinding keramik besar bertuliskan "PUSDIKLAT MIGAS" bergerak menjauh dari arah kanan bus yang kami tumpangi. Meski belum pernah menginjakkan kaki di tempat ini, namun aku yakin tidak lama lagi akan sampai ke sebuah penginapan bernama Wisma Nglajo, tempat kami akan menginap selama kurang lebih 6 bulan ke depan untuk menjalani pelatihan seperti yang diceritakan salah seorang karyawan perusahaan yang memang dikhususkan untuk mendampingi perjalanan kami. Setelah melewati satu tikungan kek kiri dan menyeberangi perempatan BNI, kami memasuki sebuah lorong yang terbilang sempit bagi bus yang kami tumpangi. Sepertinya jalan ini memang bukan dikhususkan untuk mampu dilewati kendaraan2 besar seperti ini.

Jalanan kemudian mulai sedikit menanjak dan tanpa bisa dicegah, ranting2 dari pepohonan yang sengaja ditanam di pinggir jalan terpaksa bergesekan dengan bodi bus. Beberapa warga sekitar tampak takjub (atau mungkin lebih tepatnya disebut "heran") dengan kedatangan kami. Pun demikian bagi kami yang baru pertama kali berada di tempat ini. Walhasil,.. beberapa orang dari kami tampak beradu pandang dengan mereka walau hanya sebentar. Semua tampak aneh memang saat berada di situasi dan kondisi seperti ini. Tapi semua keganjilan ini sedikit melunak setelah bus tiba2 berhenti di pelataran paving sebuah bangunan yang cukup tua jika dilihat dari kontruksinya. Kami perhatikan sejenak situasi di luar sana. Lantas, beberapa orang dari kami tampak turun meninggalkan bus setelah menemukan tulisan "wisma nglajo 2" di sebuah papan kayu depan pintu masuk, meninggalkan sebagian lainnya yang masih tampak bingung dan tidak yakin bahwa mereka telah sampai tujuan.


Barang2 telah kami turunkan,.. semua telah berkumpul di lobi wisma,.. dan seluruh anggota rombongan juga telah diabsen. Selanjutnya,.. kami segera menempati kamar masing2 sesuai dengan departemen kami nantinya di perusahaan. Sejak saat itu hingga sekitar 6 bulan ke depan, seluruh kegiatan, aturan, pelatihan, dan semua hal yang ditetapkan oleh perusahaan bersama lembaga ini akan menjadi rutinitas harian kami semua tanpa terkecuali.


Tidak lebih dari sebulan sejak kedatangan kami di sini, kami telah mulai akrab satu dengan yang lain. Pun demikian dengan lingkungan sekitar yang dulu tampak asing bagi kami kini menjadi lokasi yang nyaman untuk menghilangkan penat di akhir pekan. Bermain bola di lapangan besar bersamaan dengan atlit2 pelatnas yang sedang berlari di lintasan yang mengelilingi lapangan ini, berselancar di dunia maya dengan mengunjungi warnet yang terletak di ujung perempatan pasar, berbelanja ke supermarket dan pasar tradisional yang sedikit lebih jauh dari wisma kami, atau nongkrong di "alun2 seribu lampu" dengan menikmati mi rebus dan minum secangkir kopi "kothok" (kopi khas cepu yang sangat kental dan lumayan pahit) sembari mengakrabkan diri dengan warga sekitar. Dan begitulah, di luar 6 hari tiap minggunya yang kami habiskan dengan kuliah, pendidikan dan latihan kedisiplinan, kami juga warga biasa seperti penduduk sekitar yang menikmati akhir pekan dengan kegiatan2 yang menyenangkan.



Dengan gaji bulanan yang masih berlabel "uang saku", aku benar2 merasakan hidup mandiri tanpa sepeserpun menengadahkan tangan kepada orang tua. Dan di sinilah, momen awal terbentuknya kepribadianku secara nyata. Dimana semua peristiwa yang terjadi, konflik2 yang tidak terelakkan, dan semua hal yang menyertaiku benar2 menuntut tanggung jawabku secara pribadi.  Bagaimanapun juga, aku harus mengusahakan agar hanya berita baik saja yang sampai di telinga keluargaku. Selebihnya,.. hanya aku, teman sekamarku, dan kami semua yang dikumpulkan di tempat inilah yang menyelesaikannya.

Guyonan di lobi tiap ba'da isya', lorong gelap yang mesti kami lewati tiap sholat subuh, menggoda mbak2 penjaga counter pulsa tiap pulang kuliah, SKSD dengan penjaga mall "PESONA" tiap kali berbelanja,  mengunjungi rumah pengajar yang kebanjiran sampai sepinggang, bercanda dengan ibu2 koki di dapur, sampai kisah asmara yang terjalin antara sahabat kami dengan salah satu atlit lari nasional. Every things happened there was a priceless moments to be forgot.

1 komentar:

  1. assalamu'alaikum...mas punya foto perumahan loji kluntung di ngareng dan perumahan migas yang di nglajo?need help...ASAP nih....maturnuwun

    BalasHapus