04 Februari, 2010

Training tersadis sepanjang masa,..



Pukul 6 pagi, aku beserta 47 teman senasib meninggalkan Bhumi Wiyata dengan sebuah bus putih bertuliskan "white horse" di dinding sampingnya. Bermacam expresi wajah berhasil kami tampilkan sepanjang perjalanan yang sebenarnya tidak bisa disebut jauh. Namun, macetnya jalan Margonda Raya setiap paginya menyebabkan jarum panjang di jam tanganku berputar hampir setengah putaran hanya untuk mencapai sebuah lokasi bernama "JOTC".

Kulihat A**M yang duduk santai sambil tenggelam bersama musik yang diperdengarkan melalui MP3 player. Sedangkan R**A, teman sekamarku di Pusdiklat Migas Cepu, tengah bertelepon ria dengan entah siapa di luar sana. Predikat playboy yang melekat padanya sudah cukup memberi penjelasan bagiku alasan ia melakukannya sepanjang perjalanan. Sedang aku,. aku memilih untuk sekedar melihat berbagai keramaian yang tersaji di luar sana.

Tidak banyak nama yang bisa kurekam dalam ingatanku meski beberapa diantaranya sempat menahan kelopak mata untuk tetap terbuka selama lebih dari 5 detik, sebelum sedikit pedih yang timbul akibat mata yang mulai mengering, memaksanya untuk berkedip juga. Yang jelas, ada 2 mall besar tengah berhadap2an, tak jauh dari tempatku memulai perjalanan ini. Depok Town Square, atau yg lebih familiar disebut Detos dengan gaya klasik minimalis tampak kalah bersaing dengan Margo City, Sebuah Mall yang berarsitektur modern futuristik. Tak banyak detail yang berhasil aku lihat dari keduanya akibat bus yang aku tumpangi terus melaju mengikuti arus.


Tapi satu hal yang kami semua ketahui saat itu, kami harus mengikuti setiap sesi dari dua jenis training bertajuk "Helicopter Under Water Escape Training (HUET)" dan " Sea Survival Training", yang akan dilangsungkan di lokasi dimana bus ini akan berhenti. Sebenarnya,. jika melihat dari seluruh expresi kami yang sebagian besar menampakkan keceriaan, aku simpulkan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Setahuku,. seluruh training akan dilakukan di sebuah kolam dengan kedalaman melandai seperti umumnya kolam renang. Lebih dari itu, aku tidak tahu lagi. tapi rasanya tidak ada masalah, apalagi berenang adalah salah satu kegiatan favoritku.

Memasuki sebuah lorong yang cukup kecil, Nampaknya butuh banyak keahlian dan pengalaman mengendarai mobil sebesar ini untuk memasuki gang tanpa membuat kanopi rumah tersenggol atap bus, bodi bus tergesek ranting pohon mangga, ataupun ban terperosok selokan selebar 30 cm. Jangankan mobil, motorpun yang tampak bergerak dari arah berlawanan mesti merelakan waktunya untuk mundur dan mengalah.

Sesampai di sebuah pelataran yang cukup luas, kami yakin jika ini adalah lokasi yang dimaksud. beberapa vessel tampak hitam seperti bekas terbakar oleh api yang sangat besar. Pipa2 berseliweran di bawah gretting. Dan Hidrant air dimana2. Kami segera memasuki gedung utama, dan ketertarikan kami akan hal2 menarik jauh lebih terpuaskan di dalamnya. Selain kolam renang berukuran raksasa, ruang kelas, dan kursi2 yang berjejer di tepi kolam, semua hal tampak asing dan menarik kami untuk diketahui lebih dalam.

Sejam lebih kami habiskan untuk orientasi, briefing, dan hal2 membosankan lainnya, sampailah kami pada sesi utama training hari ini, dan aku tidak sabar untuk segera memulainya. Mula2 kami dikumpulkan di sisi kolam yang paling dangkal. Meskipun, ini sudah tergolong dalam untuk ukuran kolam renang pada umumnya. Terbukti, permukaan air telah setinggi daguku. Bisa dibayangkan berapa kedalaman untuk sisi terdalamnya. Tapi bukan masalah bagiku. Berbekal kenakalan pada masa kecil yang sering mandi di sungai belakang rumah,.. berenang dan mengambang di atas air bukanlah sesuatu yang sulit untuk dilakukan.

Beberapa instruktur tampak ikut memasuki kolam dan membagi kami dalam beberapa kelompok kecil. Tanpa diduga, kami "dipaksa" menahan nafas selama lebih dari 20 detik ketika mereka mulai membalik posisi badan kami satu persatu sehingga kepala berada di bawah air. Mereka hanya katakan ini sebagai adaptasi awal sebelum sesi utama.

Sebuah replika helikopter yang sedari tadi tampak sebagai hiasan sudut dinding bagi kami, kini terlihat bergerak tepat menuju tengah2 kolam ini. Aku mulai merasakan kecemasan. Apalagi aku belum menemukan korelasi antara latihan yang baru saja kami lakukan dengan keberadaan replika ini di tengah2 kami.

Dengan penjelasan yang cukup panjang lebar dari para instruktur, akhirnya kami tahu maksud dari semua ini. Rasanya keceriaan sepanjang perjalanan tadi begitu mubadzir dengan "musibah buatan" yang akan segera "menimpa" kami.

Walhasil,. hidungku kemasukan banyak air. Dan rasanya, pilek adalah satu2nya jawaban dari apa yang akan aku rasakan beberapa hari kedepan. D***S, teman yang di perjalanan tadi tampak tenang, kini merintih kesakitan akibat pergelangan tangan yang keseleo. Beberapa teman telah "terpaksa" meminum beberapa liter air kolam tanpa sadar. Keluhan pusing, mual, dan pengen muntah kini jamak dirasakan. Mata memerah, lemas, dan nafas tersengal2 adalah keluhan yang paling banyak kami alami. Tidak ada lagi yang ingin kami lakukan setelah ini selain kembali ke hotel dan tidur.

Sebenarnya,.. tidak banyak instruksi mengenai apa yang akan kami lakukan dengan training tadi. Kami cukup duduk di dalam replika helikopter, pasang sabuk pengaman, kemudian keluar melalui jendela samping.

Namun, banyak prosedur yang harus kami lalui untuk menyelesaikannya. Pertama, kami duduk di kursi dan mengikat sabuk pengamannya dengan keadaan replika masih di atas permukaan air. lantas, kami akan ditenggelamkan penuh bersama replika ini dan dibalik 180 derajat. Setelah replika berhenti bergerak, kami baru bisa mulai berhitung sampai 10. Baru kami boleh membuka sabuk pengaman, melepas seal kaca di jendela, mendorong jendela sekuat tenaga, dan menyelam keluar.

Dan semua itu dilakukan tanpa alat bantu pernafasan, dalam posisi tubuh terbalik dan terkadang mengalami dis-orientasi arah.

Huft,.. memang terdengar berlebihan, namun saat itu rasanya begitu dekat dengan kematian.

.

5 komentar:

  1. Buuuuud...
    Huff, huff, huff... Aku ikutan tahan nafas, aku ikutan disorientasi arah waktu baca. Takuuut juga, aku nggak bisa renang...
    Alhamdulillah nggak terjadi apa - apa ya. Yang nggak kalah penting, semoga bermanfaat trainingnya...
    Sampe speechless aku bacanya...

    BalasHapus
  2. Hehehe,.. untungnya sertifikat training ini berlaku 4 tahun. jadi,.. moga aja aku nggak dipindah ke offshore. Biar 2 tahun lagi nggak wajib re-validasi. hehehe,.. Ampus bon,..!!

    Alhamdulillah Nit, nggak ampe bikin cedera. tapi cukup bikin puyeng kepala en hidung kehilangan sensor penciuman selama beberapa hari. hehe,..

    Wedew,.. ampe speechless segala toh,.? lebay ya cara nyeritainnya,..? maklum, amateur writer. ^_^)

    Btw,.. thanks berat dah mampir ke rumahku ini. Sorry agag berantakan. En,.. sukses terus buat Nita. Ndang kelar coassnya,.. semoga segera mengalami speechless yang ke 2 saat pangeran berjubah putih (pak dokter maksude, hehe) datang dan mengulurkan tangannya.

    Semua akan indah pada waktunya,..

    BalasHapus
  3. Amiiiiiiiinnnnnnn, jangan di off shore deh Buuuuuud.... Aku ngeri bacanya, wew...

    Btw, speechless ini, doanya Buuuuuuuuud. Pangeran berjubah putih yang lagi naek kuda. Bukan dokter dalam arti yang sebenernya ( profesi jadi urutan ke sekian dalam hal ini ). Yang penting bisa mbimbing, ngajarin, selamat dunia dan akhirat... Amiiiiiiin, makaciiiiiiih doanya

    Btw lagi, kamu kapan trainng kayak gitu lagi Bud ?...

    BalasHapus
  4. Amin,..
    Ayo ndongo bareng2,...

    رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامً

    Kalo dari tanggal expirednya seh haruse 2 tahun lagi. tapi misalkan nggak ke offshore, 2 tahun lagi juga nggak wajib training ini.
    Gitu Nit,... ^_^)

    BalasHapus
  5. nice blog... mari lestarikan bumi kita karena anak cucu kita berhak menikmati bumi kita seperti kita di masa ini....

    BalasHapus