(Aku bingung harus mulai dari mana,. semua momen yang melintas di pikiran begitu menarik untuk dikisahkan,. Hehehe,. semua tampak begitu nyata di kepalaku,. seperti baru terjadi 5 menit yang lalu,. Hmm,. ok lah,. kita pakai pendekatan kronologis aja yaa,.....)
Malam itu kami berkendara membelah kota Jambi menggunakan Honda Vario isteri,. selaen untuk menikmati kebersamaan, road dinner, kami juga berencana untuk mencari tespack (bahkan untuk mengetik kata inipun, aku harus menahan diri untuk tidak tertawa,. Hehehe,. kalo ingat hari itu,. Yaa ampun, lucu kali. Apalagi melihat tatapan mbak2 penjaga apotek yang seperti,.. hhmm,.. au ah.). Kami begitu bersemangat untuk segera tahu,. positif,... :) . or,. negative,.. :(.
Sebegitu semangatnya sampai hal mendasar tentang cara kerja alat inipun tampak tidak menarik untuk kami cari tahu sebelumnya. Dan yaah,. begitulah hasilnya. Negative.. :( . (saat itu) Kami tidak mengetahui jika alat ini baru bisa mendeteksi kehamilan pasca 2 minggu berhubungan.
Lantas kami kembali ke kota asalku, Malang, sambil terus mengharapkan kehamilan isteriku. Suatu hari kami mendapatkan informasi ini dari tetangga rumah. Dan,. perasaan lega perlahan menghampiriku. Kamipun terus berusaha,. berusaha,. berusaha,. dan berusaha (apaan coba,.? Maaf, kalimat ini hanya bisa diterjemahkan oleh orang2 yang telah mengucapkan ijab qabul di hadapan pak penghulu. Yang belum nikah,. yaa segeralah nikah.. :D)
2 bulan berlalu hingga suatu hari,. 2 garis itu muncul. Yaa,. dua garis itulah yang kami tunggu2 selama ini. Dengan perasaan senang, isteri melayangkan kabar gembira ini pada ku yang tengah berkutat dengan minyak dan gas di pulau seberang. Subhanallah,. Alkhamdulillaah,. Laa ilaha Ilallaah,. Allahu Akbar,..
Sekembalinya aku di rumah, RS Hermina segera menjadi jujugan untuk memberi pembuktian dan menjadi agenda rutin kami tiap bulan untuk memastikan ia tumbuh dengan normal dan sehat.
Kehamilan bulan ke 2 dan 3 adalah masa terberat yang isteriku hadapi. Tiap hari ia merasakan mual,. tiada hari tanpa muntah dan pusing. Aku yang awalnya merencanakan untuk memiliki setidaknya 3 orang anakpun mencoba berpikir ulang untuk itu. "Ya Allah,. berat kali cobaan untuk isteriku ini. Semoga ini menjadi ladang amal bagiku dengan memuliakannya,. berusaha memenuhi semua keinginannya,. dan membuatnya sedikit nyaman di tengah kesakitannya,." bisikku dalam hati.
Keinginannya untuk pulang dan bertemu dengan bunda di Jambi, sedikit membantuku menemukan cara membuatnya nyaman selama menjalani kehamilannya ini. Aku terus berharap semoga ia bisa menghadapi hari2 sulit ini dan terus menimba pahala atas jihad yang ditunaikan.
Sekembali ke kota kami tercinta, Malang. Yang tentu saja lebih maju dan modern daripada Jambi ( Hahaha,. sampai cerita ini aku tulispun, belum tuntas perdebatan kami akan kota mana yang lebih maju. Malang ato Jambi. Aku masih tetap bertahan dengan slogan, " Apapun yang ada di Jambi, pasti ada di Malang". Dan isteriku akan selalu berusaha mendapatkan fakta yang bertentangan dengan slogan itu. Dia tampak begitu girang saat kami baru turun di bandara Abdurrahman Saleh dan tidak mendapati troli bagasi. "Nihh,. katanya Malang kota besar,. kog troli aja gak ada,.?" . Hahaha,. telak nih.. Aku cuman bisa tersenyum kecut dan berharap segera mendapatkan bahan untuk melancarkan serangan balik.
(maaf, untuk sementara cerita hanya sampai di sini,.. jam dinding udah nunjukin pukul 00:05. Artinya aku udah telat 5 menit untuk reading parameter. Hehehe,. Aku balik kerja dulu yaa,. Besok InsyaAllah disambung,.. )